Showing posts with label Story. Show all posts
Showing posts with label Story. Show all posts

Tuesday, October 14, 2008

Coban Rondo (Bagian V)

Korban berjatuhan di Villa
Siang itu aku memasak dengan Bi Nah di dapur, sekaligus belajar memasak dengan Bi Nah, sementara teman-teman yang lain bercanda di ruang tengah, Zara tidak membantuku karena asyik pacaran dengan Sean, tak apalah, lebih baik begitu dari pada aku marah-marah karena ketidak nyamanan suasana dapur kalau ada Zara,aku tenang masak dengan hasil yang memuaskan , di tambah tenaga Bi Nah yang sangat rajin membantuku. Tangannya terampil sekali membantuku memasak. Usianya yang sekitar lebih dari setengah abad itu selalu tersenyum dan sabar sekali dalam memasak. “ Yang ini di goring Cuma sebentar, neng…” “ ya, biar saya yang menggoreng, Bi.” “ nanti biar saya yang mbuat sambel gorengnya, Neng.” Katanya yang masih kental dengan logat jawanya. Begitulah salah satu percakapanku dengannya seputer memasak. Dalam sekejap dapur menjadi riuh dengan suara penggorengan dan panci-panci, aroma wangi kuliner yang kita buat menjadikan perut lapar. Di ruang tengah, Jefta, Ian Kevin dan Andreas di ruang tengah asyik bermain gitar dan bernyanyi, sesekali mereka berbincang lalu tertawa keras. “ gimana,Friend? Kalian betah ‘kan disini? Sudah terbiasa dengan hantu?” tanya Andreas dengan nada yang mengejek. “ Udah, tuh malah kita berteman baik denga hantu.” Timpal Kevin. “ Jangan ngomong sembarangan, Friend…Lo nggak inget apa? Kemarin siapa yang wajahnya mendadak pucat? “ ejek Ian. Mereka terbahak keras. “ halah sama aja, kemarin juga siapa yang lari marathon sama Jefta? Kayaknya lebih cepat lari Lo dari pada kangguru.” Kata Kevin yang nggak mau kalah. “ sudah-sudah. Nanti kita bisa punya cerita pas pulang nanti” Andreas memakan wafer yang sudah terbuka. “ Lo, Zar..koq nggak bantu-bantu si Vero?” Jefta menyelutuk keras. “ Cewek ‘kan bantu di dapur. Kasihan Vero masak sendirian.” Ian ikut menimpali. “ Nggak, ah…aku nggak suka masak. Enaknya maka saja. Siapa bilang dia sendiri , dia ditemani Bi Nah kok.” Jawabnya enteng. Jefta kurang puas dengan jawaban Zara, memang dia tahu kalau Verona pun tak menyukainya, Jefta hanya menghela nafas panjang saja. “ Ya tapi kan kalian sama-sama cewek, harus kompak lah apalagi urusan dapur.” Saran Ian. Rupanya saran Ian tidak bisa di terima dengan Zara. Sean mengajak pindah saja daripada nanti timbul keributan dengan Ian dan Jefta. “ sayang, kita pindah tempat yuk, lebih baik kita jalan jalan saja di belakang villa.” Bisik Sean mesra di Zara, Zara setuju, “ Yuk…” balasnya. Kemesraan mereka tonjolkan di depan teman-teman yang lain, dan menganggap mereka semua hanya iri dengan kemesraan mereka. Ian , Kevin , Jefta dan Andreas hanya menatap mereka berdua dengan wajah yang sedikit kesal. “ mereka hanya iri pada kita, sayang…” kata Sean. “ pasti, mereka kan tidak punya pasangan disini,” ujar Zara. Sean tertawa, mereka berpelukkan mesra menuju ke belakang villa, Di belakang villa, ada bangku taman yang langsung menuju ke hutan tanpa adanya tembok pembatas, hanya berbatas tanaman kecil saja. Untuk menuju ke taman belakang harus melewati pagar yang ramping yang tinggi, pagar besi itu sudah tua dan tidak terawatt seperti bagian rumah yang lainnya, mungkin karena letaknya di belakang jadi tidak di perhatikan atau jarang sekali mereka menuju ke belakang villa. Mereka duduk di bangku taman itu. Suasana memang sudah menjelang siang tetapi suasana tetap sejuk karena rindangnya pohon-pohon sekitar. Mereka asyik memadu kasih, bercumbu, berciuman dan sesekali tertawa cekikikan, dan saat itu juga ada yang ikut tertawa cekikikan juga. Mereka terdiam sejenak “ mungkin tadi suara kita menggema,Zar.” “ masa sih, kedengarannya beda, Sean.” “ perasaanmu saja…” Lalu mereka berpelukan dan berciuman kembali. Mereka tak sadar ada yang melihatnya. Ya, sosok kuntikanak memandang mereka dar jauh, didekat pohon bamboo yang rindang. Sean dan Zara tidak menyadarinya, dan asyik berpacaran saja. Entah apa yang di bicarakan mereka lalu mereka berdua tertawa cekikikan kembali dan tertawa mereka diikuti oleh kuntlanak itu. Untuk yang kali ini tertawanya lebih nyaring terdengar. Memekakan bulu kuduk mereka. “ Sean, kamu dengar tidak?” “ Apa?” “ Suara tertawa asing itu makin nyaring.” “ kamu ini mengada-ngada saja. Tidak ada siapapun disini, hanya kita berdua, sayang.” “ Sean, ini benar. Aku dengar sendiri, kali ini lebih keras terdengar.” “kita lanjutkan kembali, Honey… aku sayang kamu.” Sean mencium kening Zara lalu memeluknya erat-erat. Zara menikmati pelukan Sean tetapi ketika dia membuka matanya, ternyata kuntilanak itu sudah di depannya tak jauh dari mereka, berjarak kira-kira lima langkah dari mereka. Zara berteriak histeris, berteriak sekuat-kuatnya, Sean terkejut setengah mati. “ Ada apa sih?” “i..i..itu…di bela..kangmu…” ungkapnya terbata-bata. Sean menoleh ke belakang seperti yang Zara maksud dan dia melihat kuntilanak yang menyeringai dengan wajah yang menyeramkan , lalu tertawa cekikikan dengan nyaring sehingga memekakkan telinga dan membuat bulu kuduk berdiri. Sean lari terbirit-birit meninggalkan Zara begitu saja, sedangkan Zara juga tidak tahu lari kemana, mereka berpencar satu sama lain. Sean berlari kearah jalan semula yang ia lewati bersama Zara, sesekali Sean menegok ke belakang, Sean berteriak keras, “ TOLOONG!!!” Namun tak ada seorangpun yang mendengarnya. Sean tetap saja berlari tetapi sial, tangan pucat itu meraih kakinya, Sean jatuh terguling, tangan setan itu menariknya. Sean sekuat tenaga mencari pertahanan dan membuat perlawanan, tangannya berhasil meraih kayu yang tergeletak di lorong villa yang sedikit gelap. Untuk sesaat tangan yang menariknya itu tidak ada, Sean tidak merasakannya lagi. Keringat dingin mengucur deras dari cowok berparas tampan itu. Jaket yang dikenakannya menjadi kotor dan lusuh. Sean berdiri. “ Zar!!! Zara…” Sean mengamati keadaan sekitar dan memanggil Zara. Di dalam villa yang remang-remang itu tiba-tiba terdengar bunyi suara orang berjalan mendekatinya. Sean menajamkan telinganya, dari arah manakah suara itu. Terdengar semakin jelas mendekat. “ Zar, itu kamu’kan?” Tetap tak ada sahutan. Sean berdiri di tempat dan tidak beranjak satu centipun dari lantai yang dipjaknya. Tiba-tiba suara itu menghilang, dan kini suasana lorong menjadi senyap. Sean tetap saja was-was. Setelah merasa aman sepuluh detik , kakinya mulai melangkah berlahan dan… Tiba-tiba di hadapannya ada wanita pucat bermata hitam cekung, dan menyeringai. Sean berlari ketakutan, tetapi kali ini dia kurang waspada dengan apa yang ada di sekitarnya. Sean terjatuh dan kepalanya tertusuk besi yang ada di pinggir tembok batu itu. Darah segar mengucur deras, dan Sean masih sempat meringis kesakitan. Dan tak lama kemudian Sean tak bernyawa. Mayatnya begitu menggenaskan. Sementara Zara bersembunyi di balik pepohonan dan semak belukar. Ya, Zara masuk ke dalam hutan, suasana hutan menjadi semakin gelap seperti mendung, Zara tetap saja jongkok dan tak beranjak dari tempat persembunyiannya. Mungkin karena di dalam semak dia merasa aman. Namun tetap saja badannya gemetar ketakutan, karena Zara melihat dengan jelas penampakan yang baru beberapa saat tadi di lihatnya. Sesekali kepalanya menoleh ke belakang untuk mengetahui keadaan sekitar. Tangan Zara merangkul lututnya, hatnya sungguh ingin kembali ke villa, tetapi takut dengan apa yang baru saja dilihatnya. Tangan mungilnya merogoh kantong jeansnya, dia mencari handphone , ternyata ada! Dia mulai menekan tombol menu lalu ke list nama teman-temannya. Nomor Sean di dial, “ Masuk!!!” pekiknya girang. Memang nadanya masuk, dan handphone Sean bergetar saja di kantong jaket Sean, tapi sayang…Sean tidak bisa menjawabnya lagi. Zara mencobanya untuk beberapa kali. Dan tentu saja hasilnya nihil. Lalu Zara mencoba untuk mendial teman –teman yang lain , Kali ini yang di telpon Verona, dan nyambung!!! Handphone Verona berdering nyaring dan Nampak di screen handphone nama ‘ZARA’ memanggil. “ ada apa lagi sih ni anak? Bikin repot saja.” Dengus Verona kesal. Ingin rasanya di abaikan namun di sisi lain hatinya ingin juga di angkat, dan Verona memutuskan untuk mengangkat handphonenya. “ HALLO! Ada apa?” “ VE, Bantu aku sekarang. Tolong aku!” “ Ada apa lagi sih? Aku lagi siap-siapin makan siang ni” “ Ve…dengerin aku, Ve…” Zara mulai menangis. Terdengar jelas suaranya parau dan ingin mengharapkan sesuatu. “ Ya udah, sekarang aku dengerin…ada apa?” tanyaku mulai serius dengan kata-katanya. “ Ve, tadi aku lihat penampakan kuntilanak di belakang villa, lalu kita di kejar hantu itu.” “ kita? Di kejar?” tanyaku makin penasaran. “ Ya, aku dan Sean lagi pacaran di belakang villa, Ve…” Aku sempat terdiam untuk beberapa saat. “ lalu kenapa kamu sekarang dimana?” “ aku dan Sean berpencar, entah sean dimana sekarang, aku lari masuk ke hutan pinus nih..” Belum selesai bercerita, sudah terdengar teriakan yang melengking, teriakan Zara sangat menyayat hati. “ ZAR…ZARA!!!...JAWAB ZAR!!!” teriakku berulang-ulang, Aku panic tujuh keliling, aku nggak tahu harus gimana. “ Bi, Bibi selesaiin ni sendiri ya…saya ada keperluan. Maaf ya, Bi…” ujarku setengah kesal campur bingung. Aku menjambak rambutku sendiri. Aku berlari ke ruang tengah, dan kudapati mereka asyik bercanda satu sama lain. “ kalian, tolong Sean dan Zara ya…” perintahku mendadak, dan aku pun masih belum bisa mengatur nafasku. “ Zara? Sean?” tanya Ian. “ Iya…Aduuh…” jawabku panic. “ Ada apa, sih? Kayak kambing kebakaran jenggot.” Canda Kevin. “ Tenang , Ve…Kamu atur nafas lalu cerita pelan-pelan.” Saran Jefta. Jefta benar, aku sadar kalau aku terlalu panic dan berpikir yang macam-macam. Ian menggandengku ke sofa dan aku terduduk. Lemas rasanya badanku ini. “ aku baru saja di telpon Zara, Jef…dia panic banget.” “ panic kenapa?” tanya Ian, Kevin , Jefta , dan Andreas nyaris bersamaan. “ Aku juga nggak tahu katanya mereka pacaran di belakang villa lalu ada penampakan dan akhirnya mereka berdua di kejar hantu itu.” “ Ooh, pantes pindah ke belakang villa, kan mau in the Hooy ,Friend..” ujar Kevin berseloroh. “ Ya tapi mereka sepertinya mendapat musibah.” Aku mulai terpancing keadaan. “ Musibah apa? Kan mereka lagi asyik. Masa kita ganggu?” kata Ian. “ Ian, Ini benar. Suara Zara tadi Nampak ketakutan, aku khawatir banget.” Bantahku. “ baiklah kita susul mereka ke sana.” Usul Andreas. “ Menurutku sih, nggak usah aja…orang pacaran kok di ganggu? Lagi pula mereka kan suka ngerjain orang.” Cegah Kevin. “ Vin, ini sungguh-sungguh, kenapa sih kamu nggak percaya sama aku?” aku kesal setengah mati. “ Maaf, Ve… aku juga kesal sama mereka.” Kevin mengakui. “ Sudah lah itu nggak penting banget!! Sekarang kita cari mereka, Yuuk…” ajak Ian. Kita berlima setuju dan akhirnya kami mulai pencarian Zara dan Sean, “ kalian bertiga saja,Andreas, Kevin dan gue...” Ian mengkomandoi mereka. “ Lalu Jefta dan Verona, kalian berdua saja nggak papa, kan?” tanya Ian. Aku dan Jefta bersama-sama juga tak pernah jadi soal, aku malah lebih senang kalau satu team dengan cowok manis yang aku kenal sejak kecil ini. “ As, sebaiknya kamu kasih tahu ke kita gimana keadaan belakang villa.” Jefta memberi saran. “ Ya, Villa ini memang punya halaman belakang. Kalian harus melewati lorong dulu hingga berujung pagar yang sudah reot. Disitulah halaman belakang villa ini, di belakang villa juga ada hutan, ” jelas Andreas. “ kalau begitu tunggu apalagi? Aku khawatir mereka kenapa-kenapa” aku begitu khawatir dengan keadaan mereka. Kamipun tanpa dikomando sudah bergegas mempersiapkan diri untuk menuju ke tempat Sean dan Zara. “ Sebaiknya kita berpencar dulu.” Tiba-tiba Andreas member saran. “ Kok berpencar? Kan lo juga sudah tahu kemana arah mereka pergi.” Aku heran sekali mendengar usulnya. “ Kan mereka bisa saja berlari berpencar. Entah kemana, belum tentu ke arah hutan.” Kata Andreas membela pendapatnya. “ ya udah! Cepetan Aah…aku benar-benar khawatir.” Aku cemas sekali. “ Ya iya, andreas dan Kevin kesana, aku, Jefta dan Verona ke arah sini. Nanti kalau ketemu mereka berdua atau sesuatu yang mencurigakan kalian langsung telpon saja ke handphone kita.” Saran Ian. Andreas dan Kevin mengangguk tanda mengerti, aku segera berlari disusul oleh Ian dan Jefta, aku berlari sekencang-kencangnya, aku berusaha mencari pagar seperti yang dimaksud Andreas, dan… “ KETEMU, Itu pagarnya,Ian…” aku menunjuk ke pagar yang sudah karatan itu. Kami berhenti di depan pagar itu, aku melongok dan menajamkan pandangan mataku. Di dalam memang lorong yang gelap dan sepertinya lorong yang agak panjang. “ Ian, Jef…pagarnya nggak di kunci.” Kataku dan aku berusaha membuka selot yang mengunci tetapi tidak di gembok dari dalam. Tanganku meraih selotnya dan bunyi derik pagar yang karatan nyaring terdengar. Ian, Jefta dan aku mulai sedikit was-was, Jefta segera menyalakan senter yang ia bawa. Nyala lampu senter cukup membantu tetapi tidak cukup mengalahkan gelap yang menutupi ruangan. Ian juga membawa senter dan dia nyalakan untuk membantu penglihatan kita. Langkah kaki kita tedengar gemanya di lorong villa, lorong kali ini berbeda dengan apa yang aku temui sebelumnya, lorong yang agak kotor dengan sedikit tanah, dan daun-daun kering. Tembok-temboknya juga di biarkan berupa batu bata saja, udaranya pengap dan bau. Mata kami saking teliti satu sama lain. Kami mengarahkan cahaya lampu senter ke segala arah. Jujur jantungku berdebar-debar,aku juga melihat Ian dan Jefta sangat waspada dengan keadaan sekitar. Sepintas kami merasakan ada sesuatu yang lewat di belakang kami, sepintas juga kami merasakan sesuatu yang berdiri di belakang kami, Jefta merinding. Ian mulai cemas, kalau aku bergetar, ini seperti mimpi buruk yang belum selesai. Kami tetap melangkahkan kaki berlahan lahan, Jefta dan Ian sudah mulai agak menjauh dan tiba-tiba terdengar bunyi dari ujung lorong, seperti lemparan batu, kami tersentak kaget, dan spontan pandangan kami tertuju pada arah bunyi itu. Kami berlari ke arah lemparan batu dan kaki ku tersandung sesuatu. Otomatis aku melihat ke bawah , dan apa yang sebenarnya ku injak, Aku berteriak histeris, Ian dan Jefta menghampiriku…aku menunjuk langsung,sesuatu itu adalah mayat Sean. Jefta ikut berteriak histeris, Sean mati dengan tragis, Aku menangis sejadi-jadinya, biar bagaimanapun aku masih mencintai Sean, walaupun Sean memilih Zara, aku masih menyimpan rasa itu dalam hati. Aku sangat kehilangannya, Ian memelukku,Jefta menenangkanku dan menghiburku walaupun aku tahu dia juga takut dan kaget setengah mati tadi… Ian membalikkan mayat Sean yang telungkup, darah masih mengucur deras dari lukanya, “ sepertinya dia mati kecelakaan, melihat posisi luka robeknya.” Kata Ian. Ian menutup wajah Sean dengan jaketnya, meletakkan mayat Sean di pinggir lorong,sedangkan aku masih berusaha menguasai diriku, aku tidak percaya Sean yang ada di hadapanku saat ini adalah sudah berupa jenazah. “ kita letakkan Sean disini dulu saja, sekarang kita cari Zara saja dulu. “ saran Ian. “ Ian, kita hubungi yang lain aja dulu. Kita kasih tahu Kevin kalau Sean udah ketemu.” Jefta mengingatkan Ian dengan apa yang sudah di sepakati tadi. Ian mengangguk. Tangannya segera merogoh kantong celananya karena handpohonenya ada di dalam kantong celananya. Bunyi tuts handphone terdengar jelas di dalam lorong, sinyalnya agak melemah karena kami didalam lorong, “Sial, sinyalnya lemah, Kevin nggak bisa di hubungi” Ian mendengus kesal. Tiba-tiba lampu senter meredup, dan Jefta mulai gelisah. “ Wah, gawat. Lampu senternya meredup,nih…” “ Coba matikan lalu nyalakan lagi,” saranku. Jefta menurut dan mencoba saranku, lampu senter di matikan dan di coba untuk menyalakan lampu kembali. Senter itu di ketuknya berkali-kali. “ kamu nggak ngecek dulu baterainya habis atau nggak?” aku kesal banget di saat begini kenapa ada-ada saja halangannya. “ aku udah mengganti baterainya dengan yang baru sebelum kita berangkat kemari.” “ Sudah-sudah, malah bertengkar, sih? Mungkin saja pada bagian lampunya jadi bukan baterainya, kita cari Zara lagi, lagi pula masih ada satu senter.” Nasehat Ian. Aku dan Jefta sadar bahwa ini bukan saat yang tepat untuk bertengkar masalah apapun. Kami bertiga meninggalkan mayat Sean di sini dan melanjutkan kembali pencarian. Kami berlari tanpa menghiraukan gelapnya lorong, kami berusahauntuk mencapai ujung lorong , namun sepertinya kami dimain-mainkan oleh penghuni lorong ini atau apa, kita sudah berlari sejauh mungkin tetapi tidak menemukan ujung pangkal lorong ini. Rasanya sudah seperti mau mati saja, bagaimana tidak? Nafas kami mulai tersengal-sengal karena udara yang pengap dan kami berlari, “ sebentar, Ian …” cegahku. “ …sepertinya kita terjebak dalam lorong ini.” Aku menyadarkan Jefta dan Ian. “aku tahu, Ve…” Ian mengangguk sambil mengelus dadanya karena tersengal-sengal. “ Terus kita harus gimana?” Jefta mulai putus asa. “ aku juga bingung, Jef…” Aku diam dan berusaha untuk berputar otak. Ini memang “permainan” Akhirnya aku tidak sabar lagi, aku sudah pusing dengan semua ini. Capek! “ WHOOII,SETAN!!! KELUAR KALAU BERANI, JANGAN PERMAINKAN KAMI.” Aku berteriak sekeras-kerasnya, dan tentu saja teriakanku ini memekakan telinga dan mengejutkan Ian dan Jefta. “ VE! Apa-apaan siih?” Jefta menegurku. Jefta memeluk erat tubuhku. “ Sudah…sudah, tenangkan dirimu.” Jefta mengelus rambut hitamku. “ Aku capek dengan semua ini, Jef. Aku ingin pulang saja, persetan dengan taruhan yang ada, aku pingin pulang, Jef…Pingin pulang!” “ Iya, aku tahu. Kalau masalah ini selesai kita pulang, Ok? Iya kan ,Ian?” Jefta menoleh ke Ian, tetapi ian tidak ada di tempat, “IAN, IAN!!…” Jefta mulai panic, “ IAN!!…IAN!!” aku juga berteriak. “ Kemana Ian?…” aku berlari menelusuri lorong. “ Ve!..Kamu mau kemana?” jefta mengejarku. Dengan cepat Jefta berlari mengejarku dan meraih tanganku. “ VE!! Stop,Ve…! Stop!...Dengar Ve!..Jangan gegabah, kamu harus sabar…kita cari Ian dan Zara…apapun yang terjadi.” Jefta berusaha menghiburku dan meyakinkan aku. “ lalu apa yang harus kita lakukan?” tanyaku. Jujur saja, aku sudah jenuh dengan keadaan ini, villa ini benar-benar angker. Tiba-tiba ada suara orang mendekat dan berjalan perlahan-lahan. Aku dan Jefta mulai menajamkan pendengaran, dimana suara kaki itu berasal. Suara itu makin lama makin jelas terdengar, Aku mengenggam tangan Jefta. Jefta dan aku saling berpandangan, berharap apa yang akan di lihat nanti adalah manusia bukan hantu, roh atau semacamnya, Senter mengarah ke bunyi suara, dan dari kejauhan seperti ada sosok orang yang berjalan berlahan-lahan. Wajahnya belum terlihat jelas karena tertutup oleh gelapnya lorong. Lama kelamaan sosok itu makin mendekat dan terlihat jelas, ternyata Bi Nah. “ Bi, Bi Nah..kok bisa kemari?” tanyaku kebingungan, “ Iya, Bi… nanti Bibi terjebak bersama kami, saat ini kami tidak bisa keluar dari sini.” Jefta juga ikut kebingungan, Jefta memegang pundak Bi Nah. “ Tidak, Kalian harus selamat dari villa ini…” kata Bi Nah. “ selamat? Selamat bagaimana, ini aja kami berputar-putar di lorong ini saja. Jalan keluarnya tidak kami temukan.” Ujarku gelisah. “ ada, kalian ikuti saya…” Kami langsung saja mengikuti Bi Nah dari belakang, wanita tua yang masih suka mengenakan kebaya itu berlenggang menelusuri lorong, mulutnya berkomat-kamit entah mengatakan apa dan ternyata dia benar. Lorong ini ada ujungnya, tidak seperti tadi, sudah berjam-jam kami di dalam lorong dan tidak menemukan jalan satupun. Tentu saja aku dan Jefta keheranan dengan apa yang tejadi, berbagai pertanyaan timbul di benak aku dan Jefta. “ sebenarnya siapa dia?” gumamku dalan hati. “ Sudah sampai, Cepat pergi dari sini dan silahkan cari Zara di sekitar hutan Cobanrondho ini, Ian dan Zara ada di sana.” Kata Bi Nah ketika sampai di ujung lorong. “ terima kasih , Bi…” Setelah kami berucap terima kasih, kami berlari dan siap-siap mencari Ian dan Zara yang di duga masih berada di dalam hutan sana. “ sebaiknya kita hubungi Kevin dan Andreas, Jef.” Saranku. “ Iya ya..pake handphoneku saja, kamu yang telpon mereka saja.” Aku menerima handphone Jeftadan menekan nama Kevin dengan tombol “OK” dan aku melihat di layar handphone ada sinyal yang sangat kuat. Aku berharap segera diangkat, dan ternyata benar diangkat. “ Hallo, Vin…” “ Ya Hallo, gimana udah nemuin Zara dan yang lainnya?” tanya Kevin. “ Zara belum ketemu , tapi yang ketemu Sean dan kondisi Sean…” aku tak sanggup melanjutkannya. “ …Ve, kenapa Sean?” tanya Kevin. “ Sean…Sean…. Sudah meninggal.” “ Apa Sean meninggal?” Suara Kevin terdengar jelas kalau terperanjat setengah mati. “ Iya..” jawabku sambil menangis. Tiba-tiba terdengar Kevin berteriak histeris, Teriakannya menyayat hati. “ VIN!!…KEVIN!!...” “ kenapa Ve? Kevin kenapa?” tanya Jefta. “ Aku nggak tahu, sesuatu menimpa Kevin.” “ Bagaimana kalau kita telpon Andreas?” Tanpa pikir panjang aku langsung menekan nomor Andreas, dan tersambung Untuk berkali-kali tetapi tidak ada jawabannya. Sudah berulang kali aku telpon dan aku tetap saja mendapatkan jawaban yang sama yaitu nada masuk yang kemudian berganti menjadi nada sibuk. “ Jef, kayaknya mereka bermasalah. Aku semakin khawatir dengan ini semua.” Aku menundukan kepala dan terus terang aku sangat putus asa. “ sudahlah kita langsung saja mencari Zara. Kamu jangan memisahkan diri dari aku. Untuk hal seperti ini kita harus bersama-sama.” Aku memegang erat tangan Jefta dan kami berdua mencari Zara dengan memanggil namanya , mengaranhkan senter ke segala arah dan berharap ada clue agar menemukannya. Lalu dimanakan Zara sebenarnya? --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Clue,tanda Zara berlari sekencang-kencangnya dan tidak perduli kemana arah larinya. Suasana semakin mencekam di tambanh lolongan suara anjing hutan yang memekakan telinga. Orang yang tidak biasa mendegarnya pasti bergetar jantungnya dan bulu kuduk merinding, belum lagi udara yang dingin dan gelapnya malam. Tubuhnya basah karena keringat meskipun udara dingin terasa sampai ke tulang. Angin dingin yang terkadang meniup berlawanan dengannya tak di hiraukannya juga suara lolongan ajing yang membuat bulu kuduk berdiri juga di acuhkannya, yang penting Zara berlari, berlari dan sampai dia menemukan tempat persembunyian yang tepat. Pocong yang dia lihat ternyata mengejarnya, karena itu dia lari seperti orang kesurupan. Sosok mengerikan berkapas itu mengejarnya, setengah terbang dan terkadang menghilang entah kemana. Zara terengah-engah tetapi tetap saja berlari dan dia melihat WC umum yang terletak di pinggir sungai, kebetulan! Kondisi kakinya sudah tidak mamu lagi berlari jauh. Dia menuruni tangga yang terbuat dari batu kali itu, tak peduli licin atau tidak, dipikirannya hanya tempat persembunyian sampai seseorang menolongnya dari kegilaan tempat ini. Zara memasuki WC umum itu. Kondisi WC umum itu sangat menggenaskan, atapnya saja dari asbes yang bolong dan tidak terawatt karena banyak sarang laba-labanya di langit-langit. WC umum itu terdiri dari tiga pintu yang berisi toilet sederhana, dengan bentuk bangunan yang ala kadarnya saja, lantainya hanya terbuat dari semen padat yang tidak di bentuk halus, tentu saja sangat kasar bila kita menginjaknya. tidak ada lampu yang menerangi meskipun lampu kecil ada di dalamnya. Tangan Zara meraba-raba tembok supaya bisa menemukan saklar. Nafasnya masih terengah-engah, pintu yang reot itu di tutupnya dengan buru-buru, dari sela-sela lubang pintu, dia mengintip keadaan sekitar yang mencekam, dan di saat mengintip memang pocong itu masih mengejar ke tempat dia bersembunyi, Zara gemetar, dia kaget saat pocong itu mendekati WC umum tempat dia bersembunyi. Zara panic, dia mengambil alternative untuk bersembunyi di salah satu toilet, Dikuncinya rapat-rapat pintu toilet yang sudah rapuh itu. Zara berjongkok dan benar-benar sudah ingin menyerah dengan keadaan. Zara menundukan kepala kedua tangannya memeluk lututnya. Nafasnya benar-benar tak beraturan. Tiba-tiba pintu utama terbuka keras BRAAK!!! Sungguh mengejutkan, Zara nyaris berteriak, tak tahu harus berbuat apa, hanya bisa berharap agar ada pertolongan mendadak yang sangat pas waktunya sekarang ini. Keadaan sangat senyap, mata Zara hanya bisa mengintip dari lobang pintu saja, Dilihatnya hanya pintu saja yang terbuka, dan hanya suara angin saja yang terdengar, menggenapkan seramnya keadaan saat itu. Tetapi tak lama. Sosok berbalut kain kafan itu terlihat,sekali lagi Zara nyaris berteriak, pocong itu berlahan-lahan masuk. Bau yang menyengat di WC sudah kalah karena rasa takut, bibir Zara bergetar, tidak tahu harus berbuat apa. Pocong itu terdiam dan pandangan Zara tidak terlepas dari makhluk halus itu. Pocong itu bergerak dari pintu utama ke pintu toilet pertama, ini sangat menegangkan. Otak Zara seakan meledak, mulut mungilnya ingin berteriak sekencang-kencangnya. “ Tolong” dalam hati Zara. Pintu toilet pertama sudah terbuka sendirinya, dan kosong. Tidak ada seorengpun didalamnya. Pocong itu melompat dari pintu toilet kesatu ke pintu toilet kedua, dan yang pasti Zara di dalamnya. Tangan Zara menahan pintu sekuat-kuatnya. Kini sosok putih berkapas itu sudah berdiri tepat di depan pintu toilet yang bersi Zara, dan… “ ZAAR…” teriak aku dan Jefta, kami langsung masuk ke dalam toilet itu dan aku masuk menggeledah satu persatu toilet, Aku menemukan Zara menangis di balik pintu , dia benar-benar ketakutan separuh nyawa. Aku memeluk Zara, dan kami sedikit lega dengan keadaan Zara yang kami temukan, dia hanya ketakutan saja. “ Kita pulang saja, Jef…” ajak Zara pelan. “ Ya, kita pulang saja , ternyata keadaan disini tidak memungkinkan untuk menghabiskan waktu liburan, disini sama sekali tidak berkesan.” Jawab Jefta. “ sudahlah, kita kembali ke villa saja, kita pulang malam ini juga.” Saranku. Aku juga sudah muak dengan keadaan yang memacu jantung, kalau liburan di habiskan dengan suasana seperti ini, bisa mati karena sport jantung. Jefta dan Zara setuju, kita harus kembali ke villa dan memberitahukan Andreas dan Kevin, kakikai beriga ingin melangkah keluar dari WC umum yang pengap dan bau itu, tetapi tiba-tiba kaki Zara di tangkap oleh sebuah tangan yang pucat pasi, tangan itu keluar dari dalam WC, Zara teriak histeris. Aku dan Jefta kaget dan menarik Zara supaya terlepas dari tangan itu, akupun juga menginjak tangan itu. Akhirnya berhasil juga Zara terlepas dari genggaman tangan hantu itu. Kami berlari sekuat tenaga, melewati gelapnya hutan dan kembali ke tempat semula yaitu tempat aku dan Jefta yan terkurung di lorong belakang villa, Jefta menggenggam erat tangan ku dan aku menggenggam erat tangan Zara, Zara sempat terjatuh bangun ketika berlari, aku bersusah payah membantunya, dan posisi kami waktu itu seperti telur di ujung tanduk. Akhirnya kami tba di ujung lorong belakang tempat kami terjebak , ini satu –satu nya jalan menuju ke dalam villa. “ apa nggak ada jalan lain,Jef?” tanyaku. “ nggak ada jalan lain, Ve…aku bukan pemilik villa ini jadi nggak tahu di mana jalan yang lainnya.” “ ad aide?” tayaku lagi. Jujur saja aku nggak mau melewati lorong ini karena takut nggak bisa keluar. “ Gimana kalau kita telepon Andreas saja.” Terbesit ide di benak Jefta. Aku setuju. Akhirnya aku yang menelpon Andreas, dan “ Hallo…” terdengar suara Andreas sebagai lawan bicara. “ Haloo , As… ini aku Vero,Zara udah kita temukan dan sekarang kita udah di ujung lorong belakang , apa nggak ada jalan lain untuk menuju ke dalam villa?” “ ada, tapi lewat pohon bamboo yang rindang memang agak jauh , masalah nggak?” Tanya Andreas. “ mending di coba dulu dari pada nggak sama sekali…pohon bamboo yang sebelah mana?/” “ kalian muter jalan, lewati aja pohon bamboo yang ada di depan kalian,” “ ewati pohon bamboo yang ada di belakang kita?” tanyaku mengulangi untuk meyakinkan dari apa yang aku dengar. “ iya. Kalian berani tidak?” “ kita coba dulu.” Aku menutup pembicaraan dengan Andreas, “ NGGAK!!! Aku nggak mau lewat situ, tadi pagi saja aku lihat sundel bolong di pohon bamboo itu.” Zara ketakutan setengah mati. “ aku juga nggak mau lewat lorong ini karena sudah lari sampai kaki bengkak juga nggak bakal keluar dari lorong ini.” Aku agak emosi setelah mendengar penolakan Zara. “ Ve, Zara belum tahu apa yang terjadi dengan kita sore tadi.” Bela Jefta. “ Ya, dan kalian belum tahu juga apa yang terjadi dengan aku dan … Sean pagi tadi di pohon bamboo itu…” Zara mulai cemas. “ Sudahlah, Zara…kita lewat ponon bamboo itu kan bertiga, bukan kamu aja, jadi nggak perlu setakut itu.” “ Vero bener, Zar…waduuh kamu nggak tahu sih di dalam kayak apa, mana di sasarin lagi…” timpal Jefta. Kami menatap wajah Zara yang lelah sekali. Kami tahu di satu sisi Zara takut dengan pohon bamboo itu karena menurutnya dia ada pengalaman yang menyeramkan dengan pohon bamboo itu, sebaliknya, begitu juga dengan Jefta dan aku, kami juga punya pengalaman yang cukup ‘ mengesankan’ dengan lorong gelap itu. Apa boleh buat kali ini Zara yang harus mengalah total. Akhirnya kami memilih melewati pohon bamboo itu sebagai alternative terakhir untuk menuju ke villa. Lolongan anjing semakin lama semakin terdengar jelas saja, bahkan angin dingin gunung semakin menggigit sampai ke tulang. Aku melirik jam tanganku, jam menunjukkan nyaris pukul sepuluh malam, “ kita nggak ada waktu lagi, Jef…” ujarku. Jefta mengangguk, Jefta dan aku sudah mantap untuk melewati pohon bamboo itu, aku memang melihat keraguan di mata Zara, tapi ku seret saja Zara, aku menggenggam erat tangannya yang dingin karena udara malam. “ sudah Zar…anggap saja Test keberanian.” Jefta masih bisa bercanda di saat seperti ini. “ Test keberanian nenekmu…” jawab Zara. Aku hanya meringis, tertawa geli mendengar jawaban Zara atas kelakar Jefta. Kami pun melewati pohon bamboo itu dengan perasaan yang was-was, memasang telinga dengan tajam, atas suara-suara yang aneh,kaki kami pun melangkah dengan pasti, lampu senter yang di pegang Jefta tetap menyorot ke keadaan sekeliling kami. Perjalanan yang kami tempuh cukup jauh juga karena sesuai dengan kata Andreas harus muter dengan jarak yang cukup jauh juga. Lebih baik dari pada aku dan yang lain harus terperangkap di lorong neraka itu. Sudah lima belas menit kami bertiga mencari jalan menuju ke villa ternyata ada juga jalan menuju ke villa. “ Ve, jalan…jalan…ada jalan, ya… itu jalan…” Jefta menunjuk dengan cahaya senternya. Aku dan Zara senang bukan main. Ternyata perjalanan kita sudah ada titik terang untuk menuju ke villa. “ Sumpah, aku mau pulang hari ini juga begitu sampai ke villa.” Kataku semangat sekali. Akhirnya kita sampai di jalan yang cukup luas untuk kendaraan motor dan mobil. “ Kayaknya kita harus menunggu kendaraan lewat untuk sapai ke atas bukit. Kakiku udah pegel semua, kepalaku juga pusing banget.” Saranku. “ iya, kayaknya nggak memungkinkan untuk berjalan lagi, kakiku udah mau patah rasanya.” kata Zara sambil memijit kakinya. “ Ya, sama, aku juga udah haus dan lapar, pinggangku juga udak sakit, kedinginan juga…” Jefta juga mengeluh. Bunyi jangkrik yang berkerik, suasana sepi sekali, bunyi daun-daun yang tertiup angin semakin menambah sekeliling hutan sangat mencekam saja. Terkadang angin bertiup kencang,kami sudah mulai bosan dengan acara menunggu kemdaraan lewat sekitar hutan , tapi mau nggak mau harus kita lakukan. “ telpon Andreas aja sih…suruh aja dia jemput kita pake mobil. Sengsara amat sih?” aku mulai penat dengan ini semua. “ Jef, tolong kamu aja yang telpon Kevin atau Andreas, Vero benar, Jef…kita udah nggak kuat lagi,nih…” Zara setuju dengan usulku. “ ya udah, aku telpon Kevin aja.” Jefta menelpon Kevin , wajahnya yang di terangi sinar bulan kelihatan sangat lelah juga. Telpon Kevin aktif tetapi tidak di angkat juga. “ Telpon Kevin aktif tapi nggak di angkat juga. Gimana, dong?” Jefta mengarahkan handphone nya ke telingaku dan ternyata memang benar, sudah berkali-kali kita coba menghubungi Kevin tapi nggak diangkat juga. “ Ampun deh…kemana sih Kevin?” aku kesal bukan main. “ Lalu Andreas, Jef?” “ Sebentar, Zar… ini juga aku coba hubungin Anderas , siapa tahu dia angkat.” Nada di handphone aktif juga tetapi sama juga dengan Kevin tetap nggak di angkat, Jefta mulai curiga, “ Ada apa dengan mereka berdua?” gumam Jefta. “ kenapa Jef?” tanyaku. “ Kevin juga ngga bisa di hubungi, Ve…” Aku putus asa, mau nggak mau harus menunggu mobil atau kendaraan yang lewat sini. Pikiranku berkecamuk, mana Ian juga hilang entah kemana. Ditelan bumi atau di sembunyikan dimana…aku ingin menjerit. Jefta menghapus air mataku dan berusaha menghiburku. Jefta yang hangat…selau saja ada di saat aku sedih. Aku menyandarkan kepalaku di pundaknya. “ kita cari Ian dimana. Jef?” bisikku. “ Sabar ya… kita cari jalan menuju ke villa dulu setelah itu kita cari Ian sama-sama. Kita juga makamkan Sean di Jakarta.” Kata Jefta. “ aku nggak nyangka, Jef…akan menelan korban seperti ini, dari awal berangkat kemari saja sudah lihat penampakan lah, pokoknya firasatku macam-macam.” “ sudahlah Ve, kita juga nggak bermaksud mencelakakan Sean, atau Ian…kita akan cari tahu kemana Ian menghilang dan kenapa semua ini begitu mudah terjadi.” Jawaban Jefta menyejukkan hatiku. Aku kehilangan Sean, lalu Ian yang tiba-tiba raib begitu saja, sekarang otakku masih belum bisa istirahat karena ini semua belum selesai, tiba-tiba bunyi andong dan kerincingan bel yang terkadang melingkar di leher kuda terdengar sayup-sayup. Serempak mata kami mencari arah suara. Dan dari kejauhan memang ada bentuk bayangan yang mirip andong datang mendekat. “ Ve, andong datang, siapa tahu masih mau mengangkut penumpang, kita bisa ke villa lagi…” “ Ya , Jef..” Maki berdiri dan menyetop andong itu, Andong pun berhenti. “ Pak, masih ngangkut penumpang? Kita mau ke villa atas bukit.” Tanya ku “ Ya, pak…tolong kami…ini sudah malam dan kami harus ke villa.” Kata Jefta. Bapak penarik andong itu hanya terdiam, dan menatap tidak ramah, entah iya atau tidak, tatapan dinginnya mencerminkan ketidak sukaan tetapi kami terpaksa karena sudah setengah jam kami duduk di pinggir jalan dan kedinginan. Kami naik satu per satu ke dalam andong, andong itu hanya ada satu penumpang saja, seorang wanita yang memakai kerudung, berkebaya sederhana, menunduk saja , entah tertidur atau merenungkan sesuatu. Dilihat sepintas wanita ini cantik sekali, tetapi kenapa dia pergi sendirian malam-malam begini… “ Jef, baunya wangi seperti tujuh bunga, aku merinding” aku berbisik ke telinga Jefta. “ Sudah jangan berpikiran yang bukan-bukan. Siapa tahu dia memang pakai parfum yang tujuh rupa.” Balas Jefta berbisik. Aku melihat Zara tengah memandangi wanita itu, entah apa yang ada di pikiran Zara. Andong berjalan pelan-pelan. Bunyi kerincing kuda memecahkan keheningan malam itu. Peristiwa dua jam yang lalu masih mengusik otakku. Jujur saja aku semakin merinding, entah pengaruh apa. Yang penting kita samapi ke villa dan aku menepiskan semua kecurigaanku. “ Sudah sampai , Nak… kita tidak bisa mengantar sampai ke dekat villa, hanya sampai sini saja.” Kata bapak tua itu tiba-tiba. Aku memandang ke luar jalan, dan memang nampak villa sudah nyaris dekat “ memang kenapa?, Pak kok nggak mau sampai ke dekat villa padahal tinggal beberapa meter lagi, paling satu kilometer lagi.” Sahut Jefta. “… Karena kami tidak mau terkurung lagi dalam villa itu.” Jawab bapak penarik andong dan wanita cantik itu serempak, dan wajah mereka tiba-tiba berubah menjadi aslinya, bapak tua itu berubah menjadi pocong dan wanita itu tertawa melengking. Bajunya menjadi putih tulang dan kukunya panjang, begitu juga rambutnya yang tadi berbalut kerudung panjang kini berurai tak beraturan. “ WAAAAAAAAAAA!!!!” kami pun teriak bersamaan. “ Lari Ve…” “ nggak usah di suruh, Jef…” sahutku. Aku melompat turun dari andong, Zara dan Jefta juga mengikuti caraku, mungkin karena terlalu feminine, Zara terjatuh pada saat mendarat kakinya terkilir. Jefta menolongnya. Aku sudah berlari saja. Jefta memapah Zara dan Zara juga ikut lari meskipun kakinya terkilir. Andong itu menhilang dalam sekejap. Setelah aku tahu andong itu menghilang dalam sekejap, aku menghampiri Jefta yang tengah bersusah payah memapah Zara. Aku ikut memapahnya, setengah aku seret karena kami baru saja mendapat kejutan yang sangat memacu degup jantung. Kami sedikit lega ketika andong setan itu lenyap. “ Andongnya …sudah…menghilang…” kataku sambil mengatur nafas. Jefta menoleh ke belakang. Ternyata benar, andong hantu itu sudah hilang. Villa sudah dekat, dan kami sekuat tenaga mencapai villa itu. Dan akhirnya kami bisa sampai juga di villa itu dengan langkah yang lunglai. “ Vin, Andreas…buka!” panggil kami. “ VIN…Buka, kita udah nyampai nih…” teriakku. Tetap saja tidak ada jawaban, “Ada apa sebenarnya?” gumamku kesal. Bagaimana tidak? Wajah sudah kusut dan keringatan di tengah malam begini. Tidak ada suara yang menyahut sama sekali. Belum lagi kami sudah lapar dan haus. Sedari tadi juga kami tengah bermainmain dengan ‘penghuni’ sekitar Coban rondo. Aku sudah tidak sabar lagi, kuraih gagang pintu dan aku membukanya. Ruangan sepi sekali. Kami masuk dan ruangan berbeda sekali dari sebelumnya. Kini villa ini menjadi kotor dan penuh debu, sarang laba-laba ada dimana-mana, sofa dan perabotan lainnya sangat berantakan sekali. Tembok putih menjadi hitam dan lembab. Villa ini seperti tidak di huni bertahun-tahun. Benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya. “ Apa maksud semua ini?” gumamku dalam hati. “ mungkin kita salah masuk villa, Ve…” kata Jefta. Aku menggelengkan kepala, “ Nggak!..Jef, coba kamu periksa keadaan sekitar…lalu bagaimana dengan Andreas dan Kevin? Lalu Bi Nah?” aku bertanya terus. Jefta dan Zara menurut saja, tiba-tiba pintu tertutup dengan keras, mengejutkan kami bertiga. Padahal tidak ada angin yang bertiup kencang. Zara memeluk Jefta, aku juga kaget setengah mati tetapi berusaha menguasai hati dan pikiran. “AS!...KEVIN!...” panggilku. Aku menuju ke ruang tengah dengan melangkahkan kaki perlahan-lahan. “ kita harus tetap waspada Jef…” kataku. “ Ini pasti Kevin yang berniat ngerjain kita.” Kata Zara. “ nggak!, ada yang aneh dengan semua ini.” Jawabku. Begitu selesai aku berkata, ada bunyi seseorang menyeret sesuatu yang berat, lalu menutup pintu. kami serentak menoleh. “ Ve, apa itu…” Jefta berbisik di telingaku. Zara dan aku merapat ke Jefta. Tangan Jefta yang memegang lampu senterpun mengarah ke pintu yang tadi tiba-tiba tertutup. Kami ingin memastikan siapa yang barusan lewat. Kami bertiga sudah di depan pintu yang tiba-tiba tertutup tadi, ingin sekali membukanya. Jefta mencoba membuka pintu itu. Ternyata terkunci dari dalam. Aku pun mencoba untuk membukanya, dan tetap saja terkunci, entah siapa yang ada di dalamnya. “ Gimana,Jef? Pintunya terkunci dari dalam…apa kita dobrak saja?” tanyaku penasaran dengan apa yang ada di dalam. “ Kamar ini kamar Kevin dan Ian, Jef…” kata Zara. Aku mengamatinya, Ya Zara benar, ini kamar Kevin dan Ian. Wajah Jefta terlihat keragu-raguan dan belum bisa memutuskan apapun. “ aku nggak tahu ,Ve…Apa kamu yakin tadi ada seseorang yang masuk ke sini?” “ aku yakin betul, Jef. Kamu lihat aja … pintunya terkunci dari dalam, ini terbukti kalau ada orang di dalamnya.” Jawabku berdasarkan logika. “ Iya, sih…” Jefta mulai nalar. Dan membenarkan opiniku. Aku sudah tidak berpikir panjang lagi, Jefta dan aku sepakat untuk mendobrak pintu ini. BRAAK!!! Pintu terbuka, hanya ada sarang laba-laba, debu , dan semua isi kamar yang berantakan. Lampu kamar yang remang-remang menambah suasana kamar cocok untuk syuting film horror. “ Mirip kamar Britney Spears, Ve…” gurau Jefta. “ Sstt.., Jangan bercanda, aku tonjok nih…” jawabku kesal. Aku tetap saja memeriksa keadaan kamar dengan melangkahkan kakiku, siapa tahu ada sesuatu yang mencurigakan. Tapi sejauh aku mengarahkan lampu senter di setiap sudut dan cahaya senter yang menjelajah ke semua isi ruangan, tetap saja NIHIL. “ Sudah, Ve…nggak ada tanda-tanda yang mencurigakan.” Komentar Zara. Aku paham. Lalu aku keluar kamar dan dari sebelah lemari, aku tidak sadar kalau ada pocong yang mengamati kita, sepertinya pocong itu tidak menampakkan diri ke kita. Kita pun melanjutkan lagi pencarian Ian , Kevin dan Andreas. Kami keluar kamar dengan tidak menutup pintu, KRIEET…terdengar suara derik pintu yang akan menutup, tetapi tiba-tiba pintu kembali terbanting seperti tadi. Kontan saja kami terbelalak kaget seperti tadi. Dan kami pun mencoba untuk mendobrak kembali namun kali ini tidak berhasil. “ Sial!...HEY! KELUAR KAMU SETAN!!! “ Teriak Jefta. Entah gara-gara Jefta teriak seperti itu atau ada hal lain, tiba-tiba pintu terbuka dan sosok pocong sudah ada di depan pintu. WAAA!!! Teriak kami bertiga nyaris bersamaan…spontan kami terbirit-birit lari sampai ke ujung lorong dan kami terpisah, Zara ke lorong sebelah kiri, lalu Jefta dan aku lari ke lorong sebelah kanan. “ Bego!...Tolol…Goblok!...” aku tengah memaki-maki Jefta dengan nafas yang tersengal-sengal. “ Maafin aku , Ve… aku nggak tahu kalau setan tadi ngajak kita bercanda,Ve..” “ makanya jangan ngomong sembarangan, udah tahu tempat ini angker malah ngomong yang bukan-bukan” “ tapi…ngomong-ngomong…dimana Zara?” tanyaku yang sadar bahwa kita sudah lari terlampau jauh. “ Waduuh…iya juga ya… tuh anak lari kemana ya?” “ kita cari lagi saja…gara-gara kamu nih…malah jadi begini.” Aku pura-pura kesal. Aku dan Jefta lari menuju ke lorong semula dan kali ini lurus saja karena aku yakin Zara berlari secara berlawanan dengan kami. Aku dan Jefta kini ada di ujung lorong dan dan tetap lurus. Ada pintu kamar yang terbuka. Aku dan Jefta berhenti mendadak dan masuk ke kamar itu. Ternyata ada sebuah altar yang berisi sesajen, dupa, bunga dan… “ Hey….ini…” kataku sambil mengambil lembaran yang ada di lantai kamar. ©©©©
To Be Continued.....Final Chapter

Monday, October 13, 2008

Coban Rondo (Bagian IV)

Menguak Isi Villa
Verona yang tadi tengah kesal dengan Zara ternyata masih di dalam villa, dia ingin tahu isi villa, menjelajah mulai dari kamar-kamarnya, dan balkon villa yang dari luar nampak megah itu. Perlahan-lahan kaki Verona melangkah di lantai yang bersih tak ada satupun kotoran yang menempel disitu. Verona memasuki lorong yang agak gelap dan lorong itu menuju ke dapur, Verona ingin menyalakan lampu-lampu supaya keadaan sekitar tidak gelap. Sesekali Verona menoleh kebelakang, entah takut ada yang mengikuti atau waspada saja. Kaki mungil Verona melangkah perlahan, rasa penasaran menyelimuti gadis cantik berambut panjang itu. Tangannya meraba-raba tembok, dan tak sengaja dia merasakan seperti meraba sesuatu, Verona semakin merasakan apa yang di rabanya , ternyata tangan Ya! Dia seperti meraba sebuah tangan, Verona berteriak kaget, entah tangan siapa, begitu dingin menggigit, Verona merapatkan badannya ke dinding, nafasnya tersengal-sengal, jantungnya terasa sekali degupnya. Pandangan matanya lebih waspada dari sebelumnya. Verona masih kurang yakin dengan apa yang di rasakannya tadi. Kembali tangannya yang halus meraba tepat di bagian tembok dimana dia merasakan memegang tangan seseorang, dan ternyata tidak ada tangan siapapun. Verona mengerutkan keningnya. Dan tetap melangkah menuju ke ujung lorong. Udara dingin alam menyelimuti ruangan, hawa dingin ini berasal dari pegunungan, semakin malam semakin dingin menusuk tulang, meskipun memakai jaket yang tebal tetapi masih saja terasa dinginnya, apalagi untuk warga kota yang tiba-tiba ke daerah pegunungan atau hutan tentu saja perubahan hawa ini sangat terasa. Verona sampai ke dapur. Dilihatnya sosok seorang perempuan berbaju kebaya lusuh yang tengah mencuci piring dengan bantuan cahaya lampu yang lumayan redup. “ Apa dia yang namanya Bi Nah?” Verona mendekati perempuan itu. Suara langkah kaki Verona sengaja di ringankan olehnya supaya tidak terdengar oleh perempuan itu. Tangan Verona perlahan menyentuh bahu wanita itu, Waaa! Verona dan perempuan tua itu teriak bersamaan. “ Eneng ini siapa?” tanya wanita tua itu lengkap dengan logat jawanya yang kental. “ Justru saya yang ingin tanya, ibu ini siapa dan kenapa disini sendirian?” balas Verona yang tangannya masih gemetar. “ saya Bi Nah, pembantu disini, lalu Eneng ini temennya Den Andreas ya ?” Aku mengangguk Aku melirik apa yang dia kerjakan, ternyata mencuci piring-piring yang berserakan di tempat cucian piring. “ Bibi,mencuci piring di tengah-tengah lampu redup begini?” Aku berusaha mencari saklar lampu dapur , mungkin saja aku bisa menemukan lampu yang bisa berpijar terang. Tetapi pada saat aku menemukan saklar lampu , aku melihat bayangan Bi Nah di jendela dan bayangan itu bukan Bi Nah, bayangan itu sosok menyeramkan berbaju putih dan tidak terlihat mukanya, aku kaget tetapi terdiam. Mataku hanya tidak berani meihat ke arah Bi Nah yang sesungguhnya, tapi ku paksakan agar leherku menoleh ke Bi Nah, ternyata Bi Nah ada bahkan ikut bingung melihat wajahku yang kebingungan dan bayangan tadi yang bersosok Bi Nah? , ini membingungkan, “Lalu siapa bayangan tadi? ” pikirku dalam hati. “ Kenapa, Neng?” “ Nggak papa, Bi…saya hanya cari teh manis, Bibi bisa buatin saya teh manis hangat?” Bi Nah tak menjawab, hanya tersenyum dan mengerjakan saja apa yang jadi permintaanku. Aku memperhatikan seluruh bagian tubuhnya, mulai dari rambut hingga ujung kaki, dan aku tidak menemukan sesuatu yang janggal darinya, berarti benar, apa yang dikatakan Andreas tentang villa ini. “ Bi, ..boleh saya bertanya sesuatu?” “ Tanya saja, Neng …asal jangan nanya matematika ya…Bibi ndak bisa.” Katanya sambil tertawa lepas. Aku tersenyum, suasana kembali mencair, Bi Nah memberiku segelas teh manis hangat. “ Apa benar villa ini berhantu?” tanyaku menyelidik. Bi Nah menatapku dalam, Aku tak mengerti apa arti tatapan itu, isyarat ‘iya’ atau ‘tidak’, aku membalas tatapannya dengan menaikkan alis mataku. “ Ya” Jawaban yang cukup singkat dan padat. “ Bibi tidak takut disini sendirian?” “ Nggak, Neng…sudah biasa.” Tiba-tiba terdengar suara Andreas,Kevin dan Sean memanggilku. Aku meletakkan gelas yang ada dalam genggamanku ke atas meja dan menoleh ke mereka. “ Ve, disini rupanya…” Andreas menghampiriku. “ Ya, aku lagi bicara sama Bi Nah.” “ Bi Nah?” Andreas terperangah mendengar jawabanku “ …Mana Bi Nah?” tanya Sean. Aku menoleh ke belakang tempat Bi Nah berdiri Dan ternyata Bi Nah tidak ada. Aku jadi paranoid, ini gila. Orang yang barusan berbicara denganku ternyata menghilang dalam sekejap. Kemana Bi Nah? “ Tadi aku berbicara sama Bi Nah, malah dia membuatkan aku Teh hangat, aku menunjuk gelas yang berisi teh. Tenyata isi gelas kosong, tidak ada teh sama sekali. Aku semakin takut, aku merapatkan diri ke Andreas. Andreas lalu menarik tanganku. “ Ku kasih tahu ya, Bi Nah itu datangnya jam 5 pagi dan pulang jam 5 sore. Jadi dia sekarang sedang tidur-tiduran di rumahnya. ” “ Lalu siapa tadi yang kulihat?” Andreas tidak menjawab hanya mengangkat pundak dan alisnya yang tebal. Segera beranjak dari tempat itu, dan aku semakin merinding ketika meninggalkan tempat itu, berarti bayangan yang aku lihat di jendela tadi adalah sosok Bi Nah yang ‘palsu’. Sedangkan Bi Nah yang asli sudah pulang sedari jam lima sore. ©©©© Di kamar , aku semakin jenuh dan pusing dengan cerita Zara, tentang cerita seramnya yang dialami tadi sore. Ku tutupi saja wajahku dengan bantal. Aku hanya diam dan sesekali membalikkan badanku. “ Sudahlah, Zar…tidur saja dan lupakan kejadian tadi sore, aku pusing banget, apa kamu juga tidak capek di dalam mobil seharian dan sekarang belum tidur juga, ini sudah malam.” Kataku dengan nada tinggi. Zara kini terdiam, lalu merebahkan diri di sampingku. Dan setelah beberapa menit tak ada suara , maka aku membalikkan badanku tepat berhadapan dengannya. Aku melihatnya sudah terlelap. Tak bisa di percaya, aku tidur dengan rivalku, aku tidur sekamar bahkan seranjang dengan orang yang selama ini ak benci. Kini pikiranku mendadak langsung ke Sean, tentang Sean yang sudah mulai tertarik denganku namun datanglah si penggoda,Zara. Rival,lawan Verona mendengus kesal. Ditengah-tengah Verona menggerutu,tiba-tiba seperti bunyi jendela yang terbuka. Bunyi derikkan kayu yang cukup jelas terdengar dan seolah ada angin yang menggerakkannya, Verona terdiam. Sesekali telinganya menajamkan bunyi tadi. Dan benar, ternyata jendelanya belum tertutup sehingga angin malam membukanya. Verona membalikkan badan dengan was-was, perlahan dia bangun dari tempat tidur dan beranjak menuju ke jendela. Jendela yang terbuat dari kayu itu sepertinya sudah sangat tua tapi masih kokoh. Hembusan angin yang menerpa jendea kini di rasakan di kulit Verona juga. Tangan Verona meraih daun jendela,dan ingin menutupnya tetapi tiba-tiba Muncul pocong di depan jendela, Verona berteriak dan tak sadarkan diri. Teriakkan Verona membangunkan Zara dan Zara memanggil yang lainnya. Segera saja Ian, Kevin, Andreas , Jefta dan Sean berhambur keluar kamar dan masuk ke kamar Verona. Jefta langsung menggendong tubuh Verona dan meletakkan di kasur, sementara Kevin mengambil air mineral botol yang ada di meja. “ Kenapa dia, Zara?” tanya Jefta. “ Aku nggak tahu, Jef…aku tertidur dan tiba-tiba dia berteriak lalu pingsan.” Jelasnya. “ Tolong, cari minyak kayu putih atau balsam.” Perintah Jefta sambil memijit kaki Verona. “ Ve…Ve…bangun Ve!” Ian menepuk pipi mulus Verona. Minyak kayu putih pun di oleskan ke hidung Verona, dan Verona mulai siuman. Veromna melihat teman-teman berkumpul mengelilinginya. Verona memeluk Jefta, “ Kenapa, Ve?” Jefta berbisik “ Aku lihat pocong di jendela, Jef..” kata Verona serak. “ Sst, sudahlah…ada aku disini, aku nggak tidur mala mini. Jagain kamu..sekarang kamu tidur ya.” Jefta melepaskan pelukan Verona. Ian dan yang lain keluar dari kamar karena mereka melihat Verona sudah tenang. Mereka kembali ke ‘kubu’ masing-masing. Dan malam itu Jefta menjaga Verona dan Zara tanpa tidur. Untuk memastikan seberapa aman keadaan kamar Verona. Jefta menatap wajah Verona yang terlelap, sambil mengelus rambutnya yang halus lembut. Sesekali melihat jam dinding yang membisu hanya menunjukkan waktu saja padanya. Jefta sama sekali tak mengantuk, rasa kantuknya hilang karena rasa cintanya kepada Verona. Jefta tak menghiraukan meski terkadang dia mendengar suara-suara yang mengerikan atau bunyi-bunyian keras lainnya. Jefta sama sekali tak bergeming atau ketakutan. ©©©© Pagi di villa bukit Coban Rondo sangat sejuk, udaranya segar dan tidak tercemar oleh apapun, bau dedaunan segar tercium dari atas pohon, suara-suara burung berkicau melengkapi indahnya pagi itu, cahaya matahari masuk dari lubang angin yang ada di setiap jendela. Pertanda bahwa sudah pagi yang bertugas menggantikan malam yang mencekam. Tak di pungkiri indahnya pagi itu oleh Ian dan yang lainnya, Tetapi Verona masih terlelap di ranjang empuknya. “ Bagaimana Verona, Jef?” tanya Ian yang memunculkan kepalanya dari balik pintu. “ Udah tenang,kok…ini masih tidur lelap.” Jawab Jefta setengah berbisik sebab dia takut membangunkan Verona, tapi terlambat Verona sudah membuka matanya dan tersenyum ke Jefta. “ Bagaimana Ve? Sudah baikan?” tanya Jefta. “ Sudah, makasih ya sudah semalaman menjaga aku.” “ Tenang saja, kamu ini anggap aku siapa? Sudah biasa kok. Sudah tugasku menjagamu,kan?” Aku mengangguk, lalu bangkit duduk di ranjang, Jefta beranjak dari tempat duduknya dan membuka jendela, cahaya dan udara segar masuk dari jendela kamar. Dinginnya udara kali ini bukan yang menggigit seperti udara tengah malam. Verona menghela nafas panjang dan merasakan udara segar yang dia hirup. Benar-benar melegakan. Ingin rasanya keluar dan jalan-jalan. “ Jangan bangun dulu kalau masih pusing” saran Jefta. Aku tak menjawab,hanya menggelengkan kepala dan tersenyum pada Jefta, “ mau kemana, sih?” tanya Jefta menghampiriku dan memapahku. “Aku nggak papa kok, Jef…aku udah baikan, aku pingin jalan-jalan keluar.” Pintaku ke Jefta. “ Ya sudah, mau ku temani?” Jefta menanyakan jasa padaku. “ Boleh” Dan kami pun jalan-jalan keluar villa. Kami menuruni jalan setapak yang ada dan berjalan di tengah-tengah indahnya hutan yang masih belum banyak terhuni orang. Semak belukarnya saja masih setinggi bahu orang dewasa. Tapi bagi kami ini semua alami, belum lagi cuaca pagi ini sangat nyaman sekali. Suara burung-burung berkicau menambah serasinya alam Coban Rondho. Aku menikmati nyanyian alam ini dan kami sampai pada anak sungai yang mengalir jernih di antara hutan ini, batu-batu kali yang cukup besar bisa dimanfaatkan untuk bermain di sekitar anak sungai ini. Kami pun menyempatkan bermain percikan air yang dingin. “ Ini jam berapa,Jef?” tanyaku. “ Jam 7.30, kenapa?” “ Aku pingin lihat pasarnya. Aku mau kesana, temani aku,yuk…” ajakku “Denger-denger pasarnya murah dan semuanya ada, aku mau membeli beberapa sayur dan buah untuk aku masak, Jef” “ Kamu masak? Wah aku bisa sakit perut ni, aku mau beli obet sakit perut dulu,aah.” “ Jahat banget, sih!” aku menggelitiki Jefta Kami berdua berjalan ke atas sambil menikmati indahnya hutan kali ini , sampai kami menemukan pasar rakyatnya. Ramai benar suasananya dan ini sangat menyenangkan sekali. Aku asyik sekali membeli buah dan sayur, “ Jeruk ini berapa, bu?” “ Sekilo lima ribu rupiah,neng” “ Saya ambil sekilo ya bu.” “ Tinggalnya dimana , Neng? Kok kayak bukan orang sini?” “ Saya tinggal di Jakarta, tapi ini lagi nginap di villa teman.” Jelasku, “ Villa mana, neng? Yang di atas bukit itu?” “ Iya, bu” Dia menatapku heran dan seperti menyimpan sesuatu yang misterius. Aku merasakan hal-hal yang mencurigakan dari pandangan matanya. “ Memangnya kenapa, bu?” Dia terdiam dan menggelengkan kepala saja. “ Bu, ada apa? Tolong kasih penjelasan ke saya, kenapa dengan villa itu?” Tetap saja dia terdiam dan menimbang buah yang kami sudah sepakati jumlah dan harganya. “ Ayolah , bu beritahu kami ada apa dengan villa itu. Ini menyangkut kami semua.” Kata Jefta. Ibu penjual jeruk itu memandang kami dalam-dalam dan dia akhirnya mau buka mulut juga. “ Hati-hati ,nak…villa itu memakan banyak korban seperti minta tumbal,gitu.” “ Minta tumbal bagaimana?” Jefta panasaran, aku pun mulai mengerutkan keningku. “ Nak, villa itu tiap bulan minta tumbal, kata orang-orang setempat tumbal untuk pesugihan yaitu orang yang mencari kekayaan dengan cara tumbal.” “ Masa,bu?...dari mana ibu tahu akan hal itu?” aku semakin penasaran. Wanita tua itu tidak menjawab, hanya memandangi kami berdua. “ Sebaiknya kalian cepat pergi dari rumah itu, sebelu terjadi korban selanjutnya.” Wanita itu memberikan uang kembalian dan tidak berkata apa-apa lagi. Aku dan Jefta segera pergi meninggalkan penjual buah itu dan tentu saja dengan perasaan yang bercampur,antara heran, ketakutan dan rasa tidak percaya. “ Apa-apaan sih, pakai bilang ‘tumbal’segala. Memangnya ini zaman apa?” Jefta dongkol bukan main, dia menilai wanita penjual jeruk tadi mengada-ngada. “ Iya, tapi coba kita pikir sejenak, mungkin dia hanya memperingatkan kita saja, bukan menakut-nakuti, Jef.” “ Aku sama sekali nggak suka dengan expresinya, Ve.” “ Sudahlah, kita lanjutkan kembali belanjanya, ya.” Aku menarik tangan Jefta, dan Jefta tersenyum simpul dan mengikuti permintaanku. Kami asyik belanja dari satu tempat ke tempat yang lain,untuk makan siang dan makan malam jadi kami harus berbelanja agak banyak, Jefta juga tak segan-segan untuk menawar harganya, aku sangat senang sekali dengan situasi pasar rakyat ini. Karena kami sudah jenuh dengan padatnya ibukota. Dan termasuk panasnya udara dikota. “ Jujur saja, Jef, aku sangat senang dengan suasana disini , tenang, sejuk, masih banyak tumbuh-tumbuhan, lihat orang-orangnya…seperti alami semuanya. Tidak ada macet lalu lintas, udara yang panas dan semuanya yang ada di kota tidak aku temui disini, Jef” “ Aku setuju, tapi apa kamu juga sudah lupa dengan apa yang kamu alami tadi malam?” “ …Tempat ini banyak hantunya, Ve.” Lanjut Jefta. Aku sempat terdiam dan mengingat kejadian tadi malam, yaitu aku melihat pocong di jendela kamarku. Aku berteriak dan pingsan. “ Ya mungkin itulah salah satu kekurangannya. Dan aku yakin tidak akan takut kalau ada temannya.” Jawabku. “ Jadi kalau mau tinggal di daerah ini, aku sarankan kamu nyari saja daerah yang di dekat rumah penduduk atau lereng bukit, biar ada temannya.” Aku membalas saran Jefta dengan senyum manis. Dan aku ingin sekali membeli bumbu- bumbu dapur sebagai pelengkap masakan. “ Bu, bawang putih dua ribu, bawang merah dua ribu, bayam seikat.” Kataku. “ ya, lalu apalagi , mbak?” Aku menujuknya dengan jari telunjukku. Ini dan itu semua yang di perlukan dalam hal masak-memasak , karene aku ingin memasak beberapa macam masakan yang bisa dimakan oleh kami bertujuh. “ tinggal di mana, neng?” tanya ibu paruh baya itu sambil memberikan belanjaannya padaku. “ di villa di atas bukit.” Jawabku ringan, Ternyata jawabanku membuatnya terkejut. “ di villa atas bukit,kan?” ulangnya. “ya, kami tinggal untuk beberapa hari.” Jelas Jefta “ Neng, villa itu cukup angker dan sudah memakan banyak korban, sebaiknya kalian jangan tinggal di villa itu, kan masih banyak villa lain, kenapa harus villa itu?” tanyanya dengan wajah tegas, “ kita hanya berlibur di villa itu untuk beberapa hari saja.” Jelasku. “ nak, sebaiknya cepat menyingkir sebelum terjadi sesuatu dengan kalian.” “ terima kasih atas sarannya.” Kami pun segera pergi dari situ. “ kita pulang, yuk,..kita harus kasih tahu teman-teman yang lain tentang angkernya villa dan tumbal yang di jadikan pesugihan , karena sudah dua orang yang memberikan peringatan yang aneh kepada kita.” Rupanya panjelasanku masuk di akal Jefta. Dan Jefta pun segera balik ke villa,ketika di tengah jalan, kami bertemu bapak-bapak yang sedang mengendarai andong. Dan sengaja kami berdua naik kereta kuda yang melewati kaki bukit. “ pak, kami ingin tahu tentang apa saja yang bapak ketahui tentang villa bukit itu” “ villa yang ditas bukit itu Neng?” tunjuk bapak tua itu, Kami mengangguk dan serempak berkata ‘iya’. Sambil menjalankan andongnya, bapak itu menceritakan apa saja yang diketahuinya tentang rumah besar di atas bukit itu. “ bapak sudah mengelilingi jalan ini dengan andong bapak selama 30 tahun, dan memang villa di atas bukit itu sangat angker, dulu villa itu milik seorang Belanda dan tidak tahu kenapa dia meninggalkan villa itu begitu saja, setelah kosong beberapa tahun, ada kerusuhan G30S/PKI dan pembantaian di lakukan besar-besaran di dekat villa itu, neng.” “ dan villa itu menjadi angker, gitu?” selidik Jefta. “ Ya begitulah ,nak.” Sahut bapak tua berbaju lusuh itu. “ lalu apa hubungannya dengan tumbal yang di beritahukan orang-orang yang ada di pasar tadi?” tanyaku “ Wah, kalau itu bapak tidak tahu , nak…” “ terima kasih atas ceritanya, ya,Pak…” Kami pun segera turun dari andong tua yang masih mampu berjalan puluhan kilo dari atas ke bawah bukit tiap harinya. Sungguh seorang yang sangat tegar menghadapi kenyataan. Di antara tubuhnya yang rapuh dan renta terdapat semangat dalam hidupnya.
©©©©
To Be Continued....

Friday, October 10, 2008

Coban Rondo (Bagian III)

Villa Berhantu
Tinggal beberapa desa lagi mereka sudah berada di Coban Rondho, indahnya desa di pagi hari dan sejuknya udara pagi sangat terasa ketika jendela kaca mobil di buka, kembali tawa riang ada saat mereka semua membuka mata. Hutan yang masih di penuhi lebatnya pepohonan dan berbagai macam tanaman liar, mereka melihat rumah – rumah penduduk yang masih sederhana dan pemandangan lain yang mereka jarang sekali lihat selama tinggal di ibukota. “ Masih jauh. As? Tanya Ian yang masih saja menyetir mobil. “ Dikit lagi,Friend… satu desa lagi.” Jawab Andreas yang masih mengantuk. Dan setelah melewati satu desa lagi ternyata Nampak rumah bercat putih dari kejuhan. “ Nah, itu dia, Villa bokap gue.” Kata Andreas girang, spontan mereka melihat arah yang di tunjuk oleh Andreas. Mobil kini sudah berhenti tepat di depan villa itu. Rumah yang lumayan terawat, bercat putih rapi dan terdapat taman bunga yang indah. Tidak Nampak seperti villa berhantu atau semacamnya, seperti yang di ceritakan Andreas dua hari yang lalu. “ Ini villanya?” tanya Zara Andreas mengangguk. “ Nggak seperti villa berhantu” kata Sean. “ Siapa bilang?” bantah Andreas. “ …Kelihatnnya saja seperti rumah biasa, tapi kalau sudah di dalamnya, kalian pasti ketakutan. Dulu saja ada yang mati, yaitu orang yang membeli villa ini mencoba untuk menginap di sini, ternyata sudah mati gantung diri, entah apa sebabnya padahal mereka pengantin baru. Kejadian seperti itu bukan sekali dua kali, tetapi sudah empat kali,Friend. Makanya papaku memutuskan untuk tidak menjualnya, Karena sudah menelan banyak korban.” Jelas Andreas. ” Aku jadi merinding…” kata Zara. Kami semua memandang seksama villa ini, “ Aah, otak kalian udah terpengaruh karena kebanyakan lihat film Suzzana…lebih baik kita ambil foto dulu, gimana?” Jefta mengeluarkan kamera digital yang ada di dalam tas punggungnya. “ AYOOO…” kami semua bertenriak serempak. Fotopun berganti-gantian, kadang Andreas yang memotret , aku, Ian dan formasi pun berbeda-beda. Setelah berfoto-foto, “ Lalu ada yang merawat villa ini?” tanyaku. “ Ada. Dia sekaligus pawang setan, sudah terbiasa di rumahku, tapi memang dia juga tidak tinggal di villa, hanya bekerja pagi saja lalu pulang.” Barang-barangya sudah terkumpul semua dan mereka sudah siap untuk memasuki villa yang di bilang berhantu itu. Andreas memanggil Bi Nah, pembantu sekaligus pawang setan seperti yang dikataka Andreas, namun tak ada jawaban sekalipun sudah berteriak keras. Namun KLEK ! Bunyi itu tanda bahwa pintu sudah tidak terkunci lagi. Dan seperti ada seseorang yang membukanya dari luar. Pintu mulai dibuka perlahan, membuat mereka semua tegang dan focus pada apa yang ada di dalam villa. Ternyata seisi rumah di penuhi dengan perabotan antic, ada beberapa lukisan kuno seperti di zaman Belanda, tetapi semua terawat dengan baik. “ Ternyata nggak ada apa-apa begini” kata Sean. “ Iya, rumah antic yang bagus,kok.” Sahutku “ Mana hantunya? Rumah sebagus ini ada hantunya?” kata Kevin melirik Andreas. “ Jangan bicara sembarangan, nanti kalau ada penampakan jangan salahin aku ya. Aku mencari Bi Nah dulu, mungkin dia ada di belakang maklum sudah tua sepertinya pendengarannya pun kurang jelas, jadi dia tidak mendengar kalau ada orang datang” Jawab Andreas. Andreas masuk ke dalam dan mencari Bi Nah, “ Iya, paling-paling juga hantunya yang takut sama elo,Vin” ejekku. “Sudahlah, kita istirahat dulu…dimana kamarnya,As?” Ian menyela “ Oh,ya…untuk kamar kalian bisa pilih sendiri, ada sepuluh kamar “ Andreas menunjukkan arah menuju ke kamar. “ Nah, kalian silahkan pilih kamar masing-masing, untuk yang wanita jadi satu saja.” Komendo Ian kepada mereka. Satu per satu mereka memilih kamar masing-masing. “ Aku mau kamar yang deket kamar cewek, aah…” kata Kevin. Tak sengaja kata-kata Kevin itu terdengar oleh Jefta dan Sean. “ NGGAK BOLEH!!” kata Jefta dan Sean bersamaan. “ Nih, gue kempesin badan lo yang super jumbo itu. Mau?” ancam Jefta Kevin cemberut dan segera membuka kamar yang lain. “ Ian , lo satu kamar aja sama Kevin, bahaya tuh anak kalau sendirian, masalahnya saja tadi dia mau kamar yang deket sama kamar cewek.” Jefta mengadu ke Ian. “ Gue sih terserah dia aja,” jawab Ian yang tengah merapikan baju-bajunya. Tiba-tiba Andreas masuk ke kamar Ian , “ Gimana kamarnya? Kalian nyaman nggak?” tanya Andreas, “ Lumayan, kasurnya empuk, udaranya sejuk yang bikin ngantuk, jadinya pingin tidur mulu.” Ian tertawa. Merebahkan dirinya di kasur empuk yang ia duduki. Kata – kata Ian disetujui oleh Jefta, Sementara di kamar Zara dan Verona, Zara yang asyik bernyanyi-nyanyi kecil tengah menata beberapa baju yang dibawanya dalam tas. Verona memasang wajah yang cemberut, karena dalam hatinya dia tidak ingin satu kamar dengan Zara, malah lebih baik sendiri dari pada satu kamar dengan orang yang begitu di bencinya, benar-benar beban bagi Verona, Verona keluar kamar dengan hati kesal dan membanting pintu dan meninggalkan Zara sendirian, Zara tidak mempedulikan Verona dan memang dia benar-benar menguasai keadaan kamar. ” Kalau tidak betah di kamar ya keluar saja.” Kata Zara sambil tertawa sendirian. ©©©© Jam dinding sudah menunjukkan pukul 5 sore, mereka berenam berkumpul diruang tengah. “ Ini sudah sore, sudah pukul lima lebih tapi belum ada satu pun hantu yang muncul” kata Kevin dengan nada yang serius. “ Jangan sesumbar dulu, nanti kalau benar-benar ada juga belum tentu kamu berani,Vin.” Ejek Andreas. Sesudah Andreas bicara seperti itu, Kevin melihat sosok wanita berbaju putih dengan wajah yang tak terlihat karena tertutup rambut duduk di sebelahnya, karena di sebelah Kevin kosong. Mendadak wajahnya pucat pasi dan berkeringat dingin. Kevin tiba-tiba saja terdiam dan tidak bergerak. Kevin melihat teman-teman yang lain tengah bercanda tanpa menghiraukan dia. satu menit Kevin berusaha berteriak namun sia-sia, hanya kepalanya saja yang dapat menoleh. Sosok itu sangat menyeramkan, wajahnya tertutup rambut panjang menjuntai, berbaju putih berlumur darah,lengan bajunya panjang menutupi tangannya hanya terlihat kuku jarinya saja. Setengah mati Kevin ingin berteriak sekuat tenaga ketika sang hantu mulai bergerak menoleh ke Kevin. Kevin melirik lagi ke sebelahnya dan hantu wanita tadi sudah tidak ada, kini Kevin boleh bernafas lega, begitu badan Kevin bisa bergerak seperti semula, “ Kenapa gemetaran begitu,Vin?” tanyaku melihat sepertinya Kevin mengalami sesuatu. “ Aah, Nggak kok hanya tiba-tiba sakit kepala saja.” Seolah-olah tak terjadi apa-apa. “ Bener kamu pusing?” tanyaku kembali. Kevin hanya mengangguk pelan memegangi kepalanya. “ Mau minum obat? Aku ambilin ya?” Zara menawarkan jasa. Dan sekali lagi Kevin mengangguk. Zara pun beranjak dari sofa empuk dan menuju ke kamar untuk mencari obat, sampai di depan pintu dia heran melihat pintu yang tidak tertutup rapat. Dia heran karena yakin betul tadi dia menutup pintu, perlahan tangannya menyentuh pintu dan membukanya perlahan, bukan main kagetnya Zara, dia berteriak sekuat tenaga. Dia melihat pocong berbalut kain yang ada noda tanahnya, seperti bangkit dari kubur saja, pocong itu berdiri di pojok kamar dekat lemari pakaian, Teriakannya membuat teman-teman yang lain berlari kearah Zara, mereka semua mendapati Zara sedang jongkok di sudut luar kamar sambil menutup mukanya, dia sangat shock sekali. Ian meraihnya, Sean lalu memeluknya erat, Zara menangis ketakutan. Sean mencoba untuk menenangkannya. Kevin dan yang lainnya tak sabar ingin mendengarkan cerita apa yang terjadi barusan. “ Sudah ku bilang, kan … kalian jangan sembarangan berbicara.” Nasehat Andreas terucap kembali. Zara masih terisak, dan Sean berusaha memahami keadaan, “ Sean, aku mau pulang saja…” Zara merengek. “ Tahan ya, sekarang kamu tenang kan ada aku yang nemeni kamu, dari pada kita semua ngasih duit ke Andreas lebih baik kita buat senang-senang di Bali,ya?” Sean menghibur Zara. “ Villa ini berhantu dan dari awal pula sudah ku beritahukan kepada kalian semua. Ini baru beberapa jam saja kita disini, genap satu hari juga belum” Kata Andreas. “ Lalu sekarang Verona dimana?” tanya Jefta tiba-tiba. Dan semuanya sadar bahwa sedari tadi mereka berkumpul hanya Verona saja yang tidak berkumpul di tengah-tengah mereka. Spontan Verona menjadi perhatian mereka semua. “ Apa ada yang tahu kemana Verona keluar atau ada yang melihat Verona keluar kemana?” tanya Ian. Dan tak seorang pun tahu ,mereka menggeleng perlahan hampir bersamaan. “ Kalau begitu aku akan cari Verona, mumpung hari belum terlalu gelap. Ini hampir jam enam, kalian disini dan tolong jaga Zara.” Perintah Ian. Lalu mereka membawa Zara ke sofa depan dan merebahkanya supaya relax, Sean masih mencoba untuk menenangkannya. “ Ian, aku ikut ya?” Jefta menawarkan jasanya. “ Boleh, kamu bawa senter?” Jefta mengganggu Ian dan Jefta pun pergi mencari Verona. Sedangkan suasana di luar sana sangatlah berbeda dari dalam rumah karena di luar banyak pepohonan yang lebat dan tinggi menjulang. “ VE…VE…” panggil Jefta bersahut-sahutan dengan Ian. Hari mulai gelap, Jefta melirik jam tangannya dan jarum jam menunjukkan pukul 17.58,tiga menit lagi jam enam sore. “ Bagaimana, Jef? Apa kita kembali ke villa aja? Siapa tahu Verona hanya keluar cari angin saja.” “ Tapi,Ian.. ini kan hanya ada satu jalan setapak saja kita pasti melihat dia kalau benar Verona sudah pulang.” Ya sudah, kita lanjutkan nyari Vero.” Mereka memanggil nama Verona di antara langit yang mulai menggelap dan pohon-pohon yang besar. Mereka berdua sudah capek berteriak, berkali-kali mengarahkan lampu senter ke arah pepohonan yang besar, berharap menemukan Verona di antara semak belukar atau di balik pohon-pohon yang tumbuh meraksasa. Dengan sabar mereka mencari Verona. “ Kita telepon dulu si Andreas, siapa tahu Verona sudah di villa.” Saran Ian. Jefta mengeluarkan handphonenya dan menelpon Andreas. “ Hallo. As…Verona sudah di villa atau belum?” tanya Jefta serius. “ Hah, masih belum pulang?...Lo nggak ngerjain kita ,kan As?” Jefta mulai ketakutan. “ Ya udah deh, kita cari lagi yang penting handphone lo jangan di matikan,ya?.” Jefta menutup pembicaraannya dengan Andreas. Dan menggeleng ke Ian, Ian mengerti apa yang dimaksud oleh Jefta. Sudah tugas mereka untuk bertanggung jawab dan menjaga satu sama lain. Jefta dan Ian semakin jauh meninggalkan villa dan mulai kasuk ke area hutan “ ITU DIA,JEF!!!” pekik Ian, Spontan Jefta mengarah yang ditunjuk oleh Ian. Sosok wanita berjaket kuning dan bercelana jeans sedang duduk di depan sungai di atas batu kali yang besar, cahaya lampu senter mengarah ke wanita itu. “ Itu pasti Verona.” Jefta dan ian buru-buru berlari turun mendekati sosok itu. “Aduuh,Ve…kita sudah cari kemu kemana-mana tapi kamu malah asyik nongkrong disini.” Jefta bersungut-sungut. “ Iya, Ve…lagian ngapain kamu duduk disini?” Ian mulai heran. Tangan Jefta menepuk bahu Verona dan apa yang dilihatnya? Wajahnya polos, tidak ada mata, hidung atau mulutnya. Jefta dan Ian kaget bukan main. Mereka lari tunggang langgang, “ Lari, Jef…cepet!” ian yang berlari di depan Jefta. Jefta menoleh ke belakang ternyata setan muka rata itu mengejar Ian dan Jefta. Jefta dan Ian semakin lari ketakutan. Lari keatas membuat mereka berdua memakan seluruh tenaga. Tak peduli semak belukar atau serangga hutan mereka terus berlari menuju ke villa. Dan mereka berdua sampai di depan pintu villa, nafas mereka ‘senin kamis’ seperti orang yang habis lari marathon. Andreas, Kevin, Sean, dan Zara keheranan melihat keringat yang bercucuran dari Ian dan Jefta. Lantas dimana Verona sebenarnya?
©©©©
To be continued.....

Coban Rondo (Bagian II)

Berangkat ke Coban Rondo
Hari ini hari Rabu, dan hari inilah kami bertujuh untuk berangkat ke Coban Rondo daerah yang sangat menyeramkan menurut versi Andreas. Kami berniat menginap disana sampai tiga hari atau sebosannya. “ Hati-hati lho, Coban Rondo itu setahu mama adalah daerah yang masih berhutan liar, jadi jangan sembarangan ngomong atau bertindak yang melanggar sesuatu disana.” Kata mama sambil membantuku membawa tas ranselku ke ruang tamu. “ Iya, mama sayang…Vero nggak akan macem-macem disana, lagipula kalau nggak betah pasti mereka ngajakin pulang.dan Vero janji akan nelpon mama ngasih kabar,Ok?” kataku menenangkan mama yang gundah. Dan tak lama kemudian Mobil Nissan berhenti di depan rumah dan klakson mobilpun berbunyi memanggil. “ Nah , itu pasti mereka, Ma” kataku girang. Mama membuka pintu rumah dan ternyata tebakanku benar , Kevin dan yang lainnya sudah menunggu di mobil, di depan pintu sudah ada Jefta yang tersenyum simpul. “ Ma, Vero berangkat dulu ya?” pamitku sambil mencium pipi mama. “ Hati-hati, Ve…ingat pesan mama ya?...dan jangan lupa telpon mama kalau sudah sampai meskipun malam seperti apapun mama terima ” kata mama mengingatkanku. Aku mengangguk dan segera berlari keluar rumah , Jefta juga berpamit “Nitip Vero ya,Jef? “ kata mama “ Ooh, tenang saja Tan, saya jagain dia 24 jam non stop.” Seperti biasa Jefta sudah biasa bergurau dengan keluargaku. Dan kamipun segera meluncur ke tempat tujuan. Di sepanjang perjalanan kami tertawa riang, bernyanyi-nyanyi, dan mendengarkan music yang beralun dari tape mobil. Terkadang kami bercerita dan bercanda. Suasana keakraban terjadi di dalam perjalanan ini. Kota demi kota, desa demi desa kami lalui satu per satu meski ber Mil – mil jauhnya. “ Vin, kalau kamu capek nyetir, kamu gantian aja sama aku atau kamu berhenti dulu” kata Ian menawarkan jasanya “Ya, tenang aja, kan kamu kenek ku” gurau Kevin. Hari sudah berganti sore, waktu di jam tanganku menunjukkan pukul 17.45 WIB, matahari semakin tua dan sudah ingin mengakhiri siangnya, ingin segera berganti tugas dengan bulan dan bintang. “ Friend,laper nih…kalian nggak pada laper ya?” kata Zara. “ Iya aku juga laper banget nih.” Kali ini aku setuju dengan ajakan Zara. “ Ya ya tunggu ya , nanti kita cari restorant ya.” Kata Kevin menjanjikan. “ Nih untuk mengganjal rasa lapar.” Kata Sean menyodorkan makanan ringan kepada Zara. Aku melihat Andreas tertidur karena kelelahan bernyanyi dan bercerita, dari kami bertujuh , dialah yang paling cerewet dan suka bercerita. Entah cerita apapun pasti ada saja idenya. Terkadang banyolannya kosong dan hanya pencair suasana saja tetapi tak jarang juga ide-ide yang membangun dan banyolan bermutu keluar dari otaknya. Dan yang paling pendiam adalah Gregory Sean yang akrab di panggil Sean, jarang berbicara tetapi selalu saja bisa mencairkan suasana, itulah yang aku sangat sukai dari dia selain wajahnya yang tampan, tapi sayang dia lebih memilih si centil Zara dari pada aku, mungkin saja aku kurang cantik atau apalah nggak tahu. Sesekali aku melayangkan pandanganku ke Sean yang asyik berbincang mesra dengan Zara. Andai saja di sisi Sean itu aku bukan Zara. Tiba-tiba DUAAR! seperti ada suara ledakan, kami panic bukan main, apalagi Kevin. Mobilpun berhenti dan Kevin beserta Ian keluar dari mobil untuk memeriksa apa yang terjadi. Tenyata ada paku yang cukup besar menancap di tengah ban mobil. “ Hanya paku, Coy, jangan panic ya…” kata Kevin menenangkan kami. Aku mulai berfikir ini firasat bagus atau bukan, apa ini hanyalah kecerobohan Kevin. Aku menatap Kevin yang keluar dari mobil, wajahnya Nampak santai saja, seolah sudah terbiasa dengan kejadian seperti ini. Aku turunkan kaca jendela , ingin melihat ban yang kempes. “ Sean , Jefta, bantuin Kevin mengganti ban ya, andreas di dalam mobil saja menjaga Vero dan Zara.” Perintah Ian. Sean dan Jefta pun turun dari mobil dan segera mencari perlengkapan yang berhubungan dengan mechanic, “ As, firasatku mulai nggak enak nih.” Ujarku ke Andreas. “ Kenapa? Mulai takut? Belum nyampe kok udah takut?” ejek Andreas. Aku sebal dengan Andreas yang mengejekku, “ Mana mungkin kita dapat musibah pecah ban di tengah-tengah hutan begini?” kataku kesal. “ Bisa saja, ini kan hutan dimana ada apa aja di jalan. Bener kan , Zar?” bantah Andreas. Aku memilih diam dari pada aku lanjutkan , bisa jadi pertengkaran antara aku dan Andreas. Dan aku berusaha menepis pikiran jelekku tentang firasat tadi. Aku mencoba untuk berfikir secara rasio dan masuk logika. Tak lama setelah mereka mengganti ban,Kevin, Ian, Sean dan Jefta masuk lagi ke dalam mobil dan aku melihat kelegaan ada di wajah mereka. “ Sorry agak lama , karena susah banget mengganti bannya.” Jelas Kevin. Aku ikut bernafas panjang, rupanya Andreas benar kalau ini tadi Cuma kecelakaan biasa. Ketika Kevin menyalakan mesin mobilnya,aku menutup kembali kaca jendela yang sudah ku buka tadi. Tapi seperti ada yang menatapku dari seberang jalan, pandanganku keluar jendela, aku melihat sosok perempuan berbaju putih panjang dengan rambut yang terurai, wajahnya tak Nampak jelas karena berbaur dengan gelapnya malam. Aku terhenyak, pikiranku kemana-mana, entah harus berpikir negative atau positif? Lalu siapa dia di tengah hutan begini? Aku melihat Kevin. Ian dan yang lainnya seperti tak melihat sosok wanita itu. Hantu kah dia? “ Guys, kalian lihat perempuan itu, nggak?” tanyaku setengah berbisik. Seisi mobil mengarah kepada yang aku maksud, “ mana? Siapa yang kamu lihat,Ve?” tanya Ian. “ aku lihat wanita pakai baju putih berdiri di dekat pohon itu,Ian” jawabku yang berusaha meyakinkan Ian dan yang lainnya. Mereka menggelengkan kepala secara bersamaan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Bahkan Kevin sempat menertawakanku kecuali Jefta saja yang percaya padaku. Tatapan Jefta seolah mengatakan bahwa dia sangat percaya padaku, Jujur saja aku kesal tapi sudahlah dan perjalanan pun di lanjutkan kembali. Posisi kami saat ini sudah berada di Jawa Tengah, dan kini kita berhenti di sebuah restoran untuk makan malam. Kami semua turun dan segera makan di restoran itu, karena sudah larut, maka yang makan di restoran itupun juga tidak banyak, kami semua duduk dalam satu meja dan memesan makanan sesuai dengan menu yang ada, setelah acara supper itu kami melanjutkan kembali perjalanan panjang menuju villa Cobanrondo. Supper, makan malam yang sudah terlewat jamnya. Perjalanan lumayan mulus dan tak tersendat macet, perut kenyang mata pun di landa kantuk yang luar biasa karena dinginnya AC mobil. Kami pun tertidur hanya Ian dan Kevin yang tidak tertidur karena mereka akan bergantian menyetir. Ditengah perjalanan, perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur tepatnya di Cepu dan Bojonegoro, Kevin berhenti menyetir karena kelelahan dan di lanjutkan oleh Ian. Ian melanjutkan perjalanan dan sekitar sepuluh menit berlalu, tiba-tiba mobil berhenti mendadak, tentu saja kami semua terbangun “ Ada apa,Ian? “ tanya kami semua hampir bersamaan. “ Coba kalian lihat ke depan” tunjuk Ian. Kami pun langsung ingin tahu apa yang di tunjuk oleh Ian, ternyata Nampak dari kejauhan barisan orang berbaju putih mengangkat tandu, “ Apa itu ?” pikirku dalam hati. Aku melirik jam tanganku dan jarum jam menunjukkan pukul dua belas malam tepat. Kondisi jalan saat itu sangat sepi dan dengan adanya barisan itu seperti hanya kami saja yang berada di jalan waktu itu. “ Sebaiknya kita cari jalan lain saja. Mumpung mereka masih jauh” Usul Sean Bulu kuduk ku makin berdiri ketika barisan orang berbaju putih itu semakin mendekat, “ Jangan!” kata Andreas. “ Apa maksudmu ,As?” tanya Sean keheranan. Aku dan yang lainnya pun ikut mengerutkan kening. “ Kalian matikan mesin mobil ini dan jangan bersuara, sekalipun kalian melihat wajah mereka. Aku sarankan kalian menutup mata saja.” Jelas Andreas. “…Ini sudah sering terjadi, barisan itu adalah penunggu hutan ini,kalau kalian bersuara, merekan akan membawa kalian.” Lanjutnya. Mataku tak berkedip mendengar penjelasan Andreas. “ Cepat! Mereka selain mendekat saja!” kata Zara. “ Diam dan jangan bergerak.” Perintah Andreas, dan semuanya pun menuruti kata-kata Andreas Karena pemandangan yang tidak biasa ini. Mereka melewati kami dengan perlahan-lahan kurang lebih dua puluh sampai tiga puluh orang berbaris mengenakan baju putih bersih, dan mereka melangkah dengan tidak menyentuh tanah, membawa usungan keranda orang mati, entah siapa yang ada di dalamnya. Kami hanya terpaku melihat pemandangan gaib seperti itu dengan keringat dingin yang mengucur deras. Ini sulit dipercaya tetapi kami semua melihat itu. Zara yang sangat ketakutan memejamkan matanya. Badannya bergetar. Tapi untunglah kejadian ini tidak berlangsung lama , setelah melewati mobil kami, barisan berbaju putih itu tiba-tiba menghilang di telan kegelapan. “ Aah, untunglah sudah hilang” kata Ian. “ Apa sih itu tadi?” aku terheran “ Tadi itu hanya penghuni hutan ini yang lewatnya memang jam 12 malam tepat, memang cukup berbahaya juga jika kita tidak melihatnya lalu mereka tiba-tiba muncul , Waah…bisa terjadi kecelakaan” jelas Andreas “ Untung kita melihatnya dari kejauhan,kalau tidak? Kata Kevin “ Aah, sudahlah…aku nggak mau lama-lama disini…” sela Zara. “ Ya benar, kenapa lama sekali menyalakan mesinnya?” tanya Sean Buru-buru Ian menyalakan mesinnya. Dan langsung tancap gas melanjutkan perjalanan. “ Ini belum seberapa, belum di villa ku yang berhantu, aku yakin kalian nggak akan betah disana. Sudah berkali-kali ingin di jual oleh papaku tetapi susah sekali lakunya.” Kata Andreas. “ Kita pulang saja , Yuk…” kata Zara yang sedari tadi ketakutan setengah mati. Sean berusaha menenangkan Zara dengan memeluknya, aku melihatnya dengan sangat sinis, Aku cemburu, Tapi aku berusaha menguasai keadaan walaupun dalam hati aku tidak ingin Zara ikut. Jefta melhat raut wajah Verona tetapi Verona tidak menyadarinya. Jefta tahu sekali kalau Verona sangat cemburu melihat Sean memeluk Zara, apa boleh buat mereka berdua sudah jadian. Memang sudah lama Jefta menyukai Verona tetapi tak ada keberanian untuk mengungkapkan. Dan mereka pun tertidur pulas di dalam mobil sementara Ian menyetir hingga ke tempat tujuan.
©©©©
To be continued....

Ghost Story.....Coban Rondo (Bagian I)

Coban Rondo (Bagian I)
By : "Loui" (AAM)
Awal liburan yang mengerikan
“Tak bisa di bayangkan liburan kenaikan kelas yang seru, akan berubah menjadi bencana dan kengerian diantara kami,kalau saja kami mendengarkan petuah orang-orang setempat mungkin tidak akan seperti ini,tidak mungkin menelan korban jiwa…dan kusarankan kalian jangan sesekali mencobai hantu.” Ketika aku siuman, Aku sekarang terbaring lemah di kamar unit gawat darurat, tubuhku terdapat beberapa luka dan memar, ada infuse di pembuluh darahku, dan luka-luka ku di balut oleh perban yang diisi obat luka dan kapas. Aku berusaha mengamati keadaan sekitar, Aku mencoba untuk membuka mataku walaupun berat, dan yang tampak hanya langit-langit kamar yang putih bersih beserta peralatan infus. Sekarang aku terbaring di rumah sakit. “ Hai…Ve…sudah sadar ya?” tanya seseorang di sampingku. Aku mendengarnya dengan jelas karena suara itu tepat di sebelah telingaku dan aku pernah mendengar suara ini. Ya! Ini suara mama yang menungguku. “ Ma..ma…” kataku memanggil mama dengan suara parau. “ Ya sayang…jangan banyak bicara dulu, kamu harus istirahat yang banyak.” Kata mama sambil lembut membelaiku. Aku mencoba untuk duduk dan mama membantuku membenarkan bantal, mama tahu mungkin aku sudah terlalu banyak tidur. “ Ma, lihat Jefta nggak?” “ Lihat…, dia lagi beli makanan kecil di luar,” “ Kok beli makanan kecil, Ma? Jefta nggak papa kan,Ma? Dia baik-baik saja kan?” aku keheranan. Mama tersenyum simpul, lalu mengambilkan air minum di mejaku. “ Jefta juga sakit dan di rawat di rumah sakit ini,tetapi dia hanya patah tulang saja di bagian tangannya,dan luka-luka ringan… Kamarnya ada di sebelah… Kenapa?” Mama memberikan air minum dalam gelas kepadaku. Aku hanya menggeleng saja. Dalam hati, aku bersyukur Jefta masih hidup walaupun hanya mengalami cedera patah tulang dan luka ringan saja. Aku masih ingat dengan jelas kejadian yang menimpaku beberapa hari yang lalu hingga aku masuk ke rumah sakit ini. ©©©© Aku sedang asyik main Handphone baru hasil belajar keras di kelas, tak percuma aku meraih ranking dua di kelas, walaupun begitu aku sudah mendapatkan handphone yang aku mau,kini aku tengah memainkan games nya dan ingin melihat feature apa saja yang ada di dalamnya sehingga aku menguasai penuh handphone baruku ini, “ ada telephone dari Jefta.” Teriak Lucy adikku di depan pintu kamarku. “ iyaaaa…” sahutku dan segera beranjak dari tempat tidurku yang empuk dan keluar dari kamarku. … “ Ya ,Jef? Ada apa?” kataku tanpa Hallo, karena sudah akrab betul dengan Jefta. “ Bisa datang ke tempat biasa nggak,Ve?” “Emang kenapa?” tanyaku makin penasaran. “ Anak-anak pada ngumpul, pingin merencanain sesuatu.” Jawabnya. “ Kapan? Hari ini?” “ Nggak…Habis Lebaran Monyet….Ya Sekarang lah…” kata Jefta kesal. Aku hanya meringis geli mendengar Jefta menelponku dengan agak geregetan. “ Galak banget? Ya ya udah, ngumpul aja kan?” “ Ya iya lah, emang kamu mau membersihin rumah Ian juga?” “ Ya udah deh aku cepet-cepet kesana.sudah ada siapa saja di rumah Ian?” “ Sudah ada Andeas, Sean, Kevin, si meong juga udah datang, pokoknya tinggal kamu aja.” Aku tertawa mendengar kata Jefta memberi gelar ‘Meong’ kepada Zara. Aku mengakhiri pembicaraanku dengan Jefta di telephone. Aku segera bergegas ke kamar untuk ganti baju , dengan Jeans favorite dan bersiap-siap ke rumah Ian, rumah ian lumayan jauh dari rumahku, tapi tak apa, aku sudah biasa ke rumahnya jika tiap kali kami berkumpul,mama papa pun juga sudah tahu pertemanan kita yang dimulai dari taman kanak-kanak sampai saat ini. Jadi tidak heran jika kapanpun mereka ingin mencari ku pasti sudah tahu tempatnya. Aku segera membuka garasi dan mengeluarkan motor kesayanganku, CBR 125 warna biru kesayanganku, aku memang tergolong cewek tomboy, dan selalu saja berteman dengan teman pria dari pada dengan teman wanita, tapi tak jadi masalah selama kita berteman dalam hal positif. “ Ve, mau kemana” tanya mama yang melihatku mengeluarkan motor. “ Ke rumah Ian, ma…” “ Ya udah jangan malam-malam pulangnya,ya.” Kata mama mencoba mengkhawatirkanku. “ Iya” jawabku singkat. Dan aku sudah bersiap meluncur dengan motor kesayanganku ini. Mama membuka pagar dan aku berpamitan dengan mamaku. Dalam sekejap aku sudah tancap gas. “ Verona..,Verona…kapan kamu berubah feminin?” gumam mama sambil menggelengkan kepala. ©©©© Aku melesat dengan motor kesayanganku yang sudah ku panaskan sekitar lima menit, Hanya dengan menempuh perjalanan selama lima belas menit saja , aku sudah hafal sekali jalan menuju rumah Ian, dinginnya angin malam tidak aku rasakan bahkan aku sudah biasa dengan dinginnya angin ini. Aku sudah di depan rumah Ian. Aku langsung masuk saja karena pagar rumah Ian tidak terkunci, aku memang melihat beberapa sandal yang berserakan ada di depan pintu rumah Ian, “ Whoi,IAAN…” panggilku. “ Yo’i,masuk aja,langsung keruang tengah.” Suara Ian yang aku dengar dari ruang tengah. Aku meihat, Ian, Jefta, Zara, dan Kevin lagi asyik bercanda-canda sementara Andreas dan Sean sedang bermain Playstation . aku segera duduk di sofa empuk yang kosong. “ Ada apa? Kok kita ngumpul disini?” tanyaku sedikit penasaran. “ OK, Friend, kita rapat dulu sebentar,yuk…stop dulu main-mainnya nanti lagi.” Mereka semua nurut, dan mengambil posisi masing-masing , duduk merapat untuk membentuk suatu lingkaran seperti biasa yang kita lakukan sebelum rapat berlangsung. “ Begini ,…” ucap Ian,sang tuan rumah memulai pembicaraan. “ … Liburan sudah tiba,kan? Liburan kali ini cukup panjang dan ingin kalian manfaatkan kemana?” lanjut Ian. “ Gimana kalau kita ke pantai aja.” Usul Jefta, “ Nggak ah, panas…aku takut kulitku kebakar matahari , nanti gosong, deh…” ujar Zara “ HUUUUU” spontan kami semua menyoraki komentar Zara. “ Genit banget, sama matahari aja takut.” Kataku. Aku juga tidak setuju dengan pendapat Zara, dia memang genit dan manja apalagi semenjak dia mengambil alih hati Sean dariku. Aku semakin membencinya, hanya saja saat ini aku berpura-pura suka dan bertingkah seolah-olah tidak terjadi apa-apa di antara kami, masalah ini hanya Jefta yang mengetahuinya dan kepada Jefta aku percayakan masalahku. “ Sudah…sudah…” kata Ian menengahi. “…Kita kembali ke persoalan, selama ini kan kita sudah jenuh dengan mata pelajaran di sekolah, saatnya kita berlibur dan mencari pengalaman baru, bagaimana?” “ Ya, aku setuju apalagi kita sudah merencanakan liburan untuk pergi bersama-sama. Ya,kan?” Komentar Sean. Ucapan Sean ternyata disetujui kami semua termasuk Ian. “ Gimana kalau kita ke Yogyakarta?” usul Zara sambil memakan kacang yang sudah sedari tadi ada di meja. “Nggak ah, ngapain ke Yogya? Kurang menantang. Sesekali yang berbau seram atau adventure gitu.” sahut Kevin Ternyata kami semua juga tidak ada yang setuju kalau liburan kali ini dihabiskan di DI Yogyakarta. Semua setuju atas usul Kevin yang menginginkan liburan kali ini diisi oleh petualangan atau hal-hal yang berbau mistik. “ Aah,kayak berani aja,Vin…” celoteh ku. “ Bagaimana kalau kita ke Villa papa ku di daerah Coban Rondo Jawa Timur,disana banyak hantunya,lho.” Kata Andreas memasang wajah yang ketakutan. “ Haah, banyak hantunya?” kata kami hampir bersamaan. “ Nah itu dia yang di cari.” Teriak Kevin girang. “ Iya, kan Coban Rondo bekas tempat pembantaian PKI, semua orang yang bersalah maupun tidak bersalah dihukum mati oleh PKI, bagaimana? Kalian mau mencoba? Kita taruhan kalau kalian menyerah dalam waktu tiga hari maka kalian harus ngasih duit masing-masing dua juta ke gue, tapi kalau kalian yang menang maka kita semua akan jalan-jalan ke Bali selama seminggu dan itu semua gue yang bayar, bagaimana? Cukup adilkan?” tantang Andreas. Kami saling berpandangan sejenak,dan “ SETUJU!!” kata kami serempak. Kami memang tengah tergiur liburan ke Bali bersama dan kebetulan Andreas menawarkan sesuatu yang gampang sekali. “ Masalah Transportasi?” tanyaku sambil meminum minuman yang disediakan oleh pembantu Ian. “ Tenang, Om ku pasti bersedia meminjamkan mobilnya,kok…” ujar Kevin. “ Lo yakin, Vin?” tanya Sean. “ Tenang aja,Friend…Om ku kan mau keluar kota, kunci mobilnya dan STNKnya pasti di tinggal,Coy… HAHAHAHAHA…” jawab Kevin tertawa girang. “ Siip, Kalau begitu tinggal tanggal mainnya saja.” Kata Ian. “ Gimana kalau dua hari lagi kita berangkat?” ujar Andreas. “ Dua hari lagi? Itu terlalu singkat, kalau minggu depan gimana?“usulku. “ Terlalu lama. Aku nggak sabar ingin berpetualang dengan hantu.” Kata Jefta sambil terbahak. “ Kalian belum pernah tahu ya yang namanya Coban Rondo, angker banget,Friend! Jangankan tiga hari dalam waktu sehari saja aku yakin kalian pasti akan minta pulang.” Gelak Anderas. “ Aku jadi nggak sabar ingin tahu seseram apa sih, Coban Rondo itu?” tanya Ian. “ Baik…Aku setuju kalau dua hari lagi , gimana?” lanjut Ian. Ternyata kami semua terlalu penasaran dengan cerita Andreas yang seram itu, entah bohong atau benar akan terbukti disana nanti. Dan pada akhirnya kami semua setuju dua hari lagi untuk memulai petualangan seram ini. Aku juga tidak berlama-lama di rumah Ian, selain aku ingat perintah mama , aku juga jenuh melihat Zara, aku pun berpamit pulang kepada sang tuan rumah. Entah yang lain masih bermain-main dirumah Ian atau menyusul seperti ku,langsung pulang. Ian dan Jefta mengantarkanku sampai ke depan pintu,lalu aku lambaikan tangan kepada mereka berdua,Ku tancap gas dan ku lepas kopling tangan CBR ku,
©©©©
to be contiuned.....